PISN Perkuat Pelestarian Jaipongan melalui Desain Busana Berbasis Digitalisasi
- 17 Sep 2026 14:16 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) menyasar Sanggar Tari Purnamasari di Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, melalui pendampingan desain busana tari Jaipongan kreasi berbasis teknologi digital (TI). Program yang berlangsung selama tujuh bulan ini diarahkan untuk memperkuat pelestarian seni tradisi sekaligus menjawab kebutuhan komunitas seni terhadap perkembangan teknologi dan estetika visual.
Keterbatasan pengetahuan dalam merancang busana berbasis teknologi digital selama ini menjadi salah satu kendala dalam pengembangan kualitas visual pertunjukan. Kondisi tersebut mendorong hadirnya program pendampingan yang menempatkan teknologi bukan sebagai pengganti tradisi, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat proses kreatif, dokumentasi, dan pengembangan karya seni tradisi.
Dalam program ini, aplikasi Procreate diperkenalkan sebagai media penciptaan desain dua dimensi yang mudah diakses dan mendukung proses perancangan busana secara digital. Pemanfaatannya mencakup pembuatan sketsa, pewarnaan, rendering, eksplorasi motif, hingga simulasi drapery secara sederhana. Melalui media tersebut, proses perancangan dapat dilakukan secara lebih terstruktur, mudah direvisi, dan dapat dijadikan acuan dalam produksi kostum.
Pelaksanaan program dilakukan melalui sembilan tahapan, mulai dari sosialisasi, identifikasi kebutuhan, pelatihan estetika busana Jaipongan, hingga pendampingan penciptaan desain. Pendekatan yang digunakan berupa pendampingan partisipatif berbasis praktik dengan menempatkan anggota sanggar sebagai subjek aktif dalam proses co-creation.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada penguasaan aplikasi, tetapi dilakukan secara langsung dari proses pembuatan mock-up digital hingga evaluasi desain. Pola tersebut memungkinkan peserta memahami hubungan antara gagasan visual, karakter gerak tari, kebutuhan pertunjukan, dan penerapannya ke dalam rancangan busana yang dapat diproduksi.
Program ini menargetkan keterlibatan aktif sedikitnya 10 peserta, dengan 80 persen peserta diharapkan mampu menghasilkan desain busana digital sederhana. Selain itu, ditargetkan tercipta sedikitnya lima desain busana Jaipongan kreasi serta satu dokumen panduan yang berfungsi sebagai arsip desain digital bagi sanggar.
Setiap rancangan tetap diarahkan untuk berakar pada nilai dan karakter tradisi Jaipongan, namun memiliki ruang untuk beradaptasi dengan perkembangan estetika visual. Teknologi digital ditempatkan sebagai instrumen pendukung kreativitas sehingga proses inovasi tetap memiliki keterhubungan dengan identitas seni tradisi yang dikembangkan oleh komunitas.
Keberlanjutan program diperkuat melalui pembentukan kader lokal di lingkungan Sanggar Tari Purnamasari yang memiliki kemampuan dasar dalam desain busana digital. Panduan desain juga disiapkan sebagai referensi internal, sementara jejaring antara sanggar, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan setempat terus diperkuat untuk mendukung pengembangan kapasitas komunitas.
Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mendorong Sanggar Tari Purnamasari untuk lebih mandiri dalam mengembangkan desain busana, menyimpan dokumentasi karya, serta melakukan pengembangan desain untuk kebutuhan pertunjukan berikutnya. Pola pendampingan berbasis teknologi dan partisipasi komunitas juga dapat menjadi model yang direplikasi oleh komunitas seni tradisi lain di tingkat lokal maupun nasional.
Program PISN merupakan program pengabdian kepada masyarakat di bidang seni, desain, dan media yang berfokus pada penguatan kapasitas komunitas seni melalui pemanfaatan teknologi digital. Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Sanggar Tari Purnamasari selama ini membina sekitar 50 anggota, mulai dari anak-anak hingga dewasa, dalam bidang tari tradisional Sunda dan Jaipongan. Busana yang digunakan sebelumnya masih bersifat konvensional dengan variasi desain yang relatif terbatas. Proses perancangannya juga belum dilakukan secara sistematis dan belum terdokumentasi dalam bentuk digital, sehingga pengembangan desain masih menghadapi keterbatasan.
Melalui pendampingan PISN, proses perancangan busana diarahkan menjadi lebih terdokumentasi, sistematis, dan adaptif. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat memperluas ruang kreativitas komunitas sekaligus memperkuat keberlangsungan seni tradisi melalui peningkatan kapasitas pelaku seni di tingkat sanggar.
Kegiatan ini dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Penulis: Prof. Dr. Trianti Nugraheni, S.sen., M. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....