Warga Citrayuda Tolak Pembangunan Sekolah Lima Lantai, Soroti Jalan dan Air Tanah
- 30 Sep 2026 09:41 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Rencana pembangunan sekolah BPK Penabur di kawasan Jalan Citrayuda, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, mendapat penolakan dari sejumlah warga. Warga khawatir pembangunan gedung lima lantai tersebut berdampak terhadap kondisi lingkungan dan kenyamanan permukiman.
Salah satu warga Jalan Citrayuda Nomor 11, Yoga, mengatakan akses jalan di kawasan tersebut dinilai tidak memadai untuk menampung aktivitas sekolah dengan jumlah siswa yang disebut mencapai sekitar 2.000 orang.
"Kalau sekolah itu berdiri, kami khawatir terjadi kemacetan dan aktivitas warga akan terganggu. Jalan Citrayuda ini kecil, lebarnya sekitar 3,3 meter," kata Yoga, Selasa 29 September 2026.
Menurut Yoga, kepadatan kendaraan sebenarnya sudah kerap terjadi di kawasan tersebut. Karena itu, aktivitas sekolah dengan jumlah siswa yang besar dikhawatirkan semakin menambah persoalan lalu lintas dan mengganggu mobilitas warga.
Ia menegaskan, keberatan warga bukan semata-mata mengenai keberadaan sekolah. Warga juga mempertanyakan kesesuaian pembangunan gedung bertingkat di tengah kawasan permukiman yang cukup padat. "Intinya, kami warga yang tinggal di permukiman padat akan merasa tidak nyaman jika harus berhadapan langsung dengan sekolah yang aktivitasnya besar," ujarnya.
Selain persoalan lalu lintas, warga mengkhawatirkan dampak proses pembangunan yang diperkirakan berlangsung sekitar dua tahun. Penggunaan metode pengeboran untuk pemasangan pondasi dinilai berpotensi memengaruhi kondisi air tanah di sekitar permukiman.
Persoalan air menjadi perhatian warga karena aliran PDAM di wilayah tersebut disebut kerap mengalami gangguan. Warga juga menyebut adanya ketentuan yang membatasi pembuatan sumur bor air dalam untuk menjaga ketersediaan air tanah. "Di sini tidak boleh membuat sumur bor air dalam karena dikhawatirkan merusak debit air. Jadi persoalan air ini juga menjadi perhatian kami," kata Yoga.
Selain dampak pembangunan, warga mempertanyakan proses komunikasi dan keterlibatan masyarakat terdampak. Warga Jl Citrayuda mengaku kecewa karena masyarakat yang tinggal langsung di sekitar lokasi belum memperoleh informasi secara terbuka mengenai rencana pembangunan tersebut.
Menurut Yoga, warga telah beberapa kali mengikuti pertemuan dengan pihak BPK Penabur di tingkat kelurahan. Namun, sejumlah data yang diminta, termasuk penjelasan mengenai rencana pembangunan dan perizinan, disebut belum diperlihatkan kepada warga.
"Kami sudah beberapa kali bertemu dengan pihak BPK di kelurahan. Kami meminta data dan penjelasan mengenai rencana pembangunan, termasuk perizinannya. Kami juga meminta informasi mengenai izin dari Pemerintah Kota Bandung. Katanya sudah ada, tetapi belum bisa ditunjukkan kepada kami," ujarnya.
Kekecewaan warga kembali muncul setelah agenda mediasi yang semula dijadwalkan Selasa (29/9/2026) pukul 15.00 WIB dimajukan menjadi pukul 11.00 WIB. Yoga mengatakan perubahan jadwal tersebut tidak diketahui seluruh warga terdampak dan undangan lebih banyak ditujukan kepada pengurus RW serta pihak terkait. "Kami merasa tidak dilibatkan. Kami ini warga yang terdampak langsung, seharusnya diberi tahu dan dilibatkan," katanya.
Atas keberatan tersebut, warga telah melayangkan surat penolakan yang memuat 14 persoalan terkait rencana pembangunan sekolah lima lantai di kawasan Citrayuda, khususnya RT 11. Warga meminta pemerintah dan pihak BPK Penabur mengevaluasi kembali rencana pembangunan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta karakter kawasan permukiman.
Sementara itu, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Cicendo, M Deni Zakaria, membenarkan telah digelar pertemuan sosialisasi yang melibatkan BPK Penabur, pengurus RT dan RW, Satpol PP, DPMPTSP Kota Bandung, serta sejumlah dinas terkait. Zakaria mengatakan jadwal pertemuan dimajukan dari pukul 15.00 WIB menjadi 11.00 WIB karena camat harus menghadiri rapat paripurna DPRD.
"Saya sudah menyampaikan perubahan jam ke kelurahan dan kemudian disampaikan kepada RT dan RW. Mungkin informasi kepada warga terdampak tidak tersampaikan," ujarnya.
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan warga melalui pengurus lingkungan. Ia mengaku belum mengetahui hasil pertemuan dan menyebut penyampaian hasil akan dilakukan oleh pimpinan.
Di tengah rencana pembangunan tersebut, warga berharap keputusan tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan fasilitas pendidikan, tetapi juga memperhatikan kondisi lingkungan dan kepentingan masyarakat yang telah lama bermukim di kawasan Citrayuda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....