Pendidikan Vokasi Didorong di Ruang Kelas, Industri dan AI Jadi Penguat
- 22 Sep 2026 18:33 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pendidikan vokasi di Indonesia didorong semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Dorongan tersebut mengemuka dalam rangkaian Gelar Karya Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Vokasi di Cimahi, Jawa Barat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, penguatan pendidikan vokasi tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teori. Kompetensi guru dan peserta didik harus diwujudkan dalam karya, inovasi, serta pengalaman belajar yang memiliki keterkaitan langsung dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Hal itu antara lain ditandai dengan peresmian Galeri Kejuruan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Cimahi.
Galeri tersebut disiapkan sebagai ruang untuk menampilkan berbagai inovasi dan karya pendidikan vokasi dari sekolah maupun balai pendidikan vokasi. Mu’ti berharap galeri tidak menjadi ruang pamer yang statis, tetapi terus diperbarui dengan karya-karya baru.
“Gedung Galeri itu menjadi pusat yang di dalamnya ditampilkan berbagai inovasi, kreativitas, dan juga capaian yang berbasis teknologi yang dikembangkan oleh SMK-SMK yang ada di Indonesia,” ujar Mu’ti, Selasa 22 September 2026.
Ia meminta koleksi dan karya yang ditampilkan diperbarui setiap tahun. Dengan demikian, perkembangan teknologi sekaligus kreativitas satuan pendidikan vokasi dapat terlihat secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin mengatakan, tantangan pendidikan vokasi saat ini bukan hanya soal ketersediaan sarana, tetapi juga bagaimana sekolah mampu merespons perubahan teknologi dan kebutuhan industri.
Menurut Tatang, kemitraan dengan dunia industri perlu diwujudkan dalam aktivitas pembelajaran. Kesepakatan kerja sama antara sekolah dan industri tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan dokumen. “Kita tidak ingin MoU hanya menjadi dokumen yang rapi di atas meja; MoU harus turun ke dalam kelas,” kata Tatang.
Implementasi kemitraan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti teaching factory, penyusunan kurikulum bersama, pengerjaan proyek hingga sertifikasi kompetensi. Pola tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih relevan bagi siswa sebelum memasuki dunia kerja. “Rumah inovasi” yang dibangun melalui Galeri Kejuruan juga diarahkan menjadi ruang bagi guru untuk mengembangkan kompetensi sekaligus tempat siswa menghasilkan karya.
Penguatan kompetensi pendidik dalam kegiatan tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Daring Terbimbing Angkatan 6. Program ini terdiri atas 16 kelas dengan total 320 guru SMK sebagai peserta. Selain itu, sebanyak 16 instruktur lembaga kursus dan pelatihan (LKP) mengikuti pelatihan produksi iklan animasi tiga dimensi yang terintegrasi dengan AI.
Hasil dari rangkaian pelatihan kemudian dipamerkan melalui gelar karya. Produk yang ditampilkan tidak hanya menjadi bukti keikutsertaan peserta, tetapi juga mencerminkan penerapan kompetensi yang diperoleh selama pelatihan.
Pemanfaatan AI juga menjadi salah satu agenda dalam penguatan pendidikan vokasi. Pada kesempatan yang sama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dengan PT ASIX Indonesia Cerdas.
Kerja sama tersebut menjadi landasan kemitraan dalam pengembangan kompetensi berbasis AI, robotika, dan teknologi drone di lingkungan pendidikan vokasi.
Di tingkat pelaksanaan, BBPPMPV BMTI juga menandatangani rencana kerja dengan PT Agate International dan PT Handal Yesindo Sejahtera. Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan konten dan teknologi pembelajaran.
Tatang menambahkan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari fasilitas yang diresmikan ataupun kerja sama yang ditandatangani. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh program tersebut menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan sekolah, guru, dan peserta didik.
“Hari ini kita meresmikan fasilitas, besok kita hidupkan manfaatnya. Hari ini kita menandatangani kemitraan, besok kita wujudkan hasilnya,” kata Tatang.
Ia menegaskan, pengembangan pendidikan vokasi pada akhirnya diarahkan untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja, sekaligus memberi ruang kepada guru dan peserta didik untuk terus mengembangkan kemampuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....