Walikota Bandung Tagapi Keluhan Warga Pembanguna BRT Jadi Bahan Evaluasi

  • 14 Sep 2026 11:46 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan pembangunan dan pelaksanaan Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung tetap dilanjutkan meski menuai sejumlah keluhan dari masyarakat, terutama terkait perubahan kondisi lalu lintas dan pembangunan halte di sejumlah ruas jalan.

‎‎Farhan mengatakan, BRT merupakan pilihan kebijakan transportasi yang sejak awal telah diterimanya sebelum resmi dilantik sebagai Wali Kota Bandung. Sejak saat itu, ia mengaku telah beberapa kali meninjau langsung rencana jalur BRT di berbagai wilayah Kota Bandung.

‎"Jalur BRT memang agak susah membayangkan bahwa di tengah Jalan Cicadas, di Jalan Jakarta, di Jalan Ciroyom, termasuk wilayah Ciroyom dan Pasar Baru, itu akan ada halte-halte di tengah jalan dengan menggunakan penyeberangan, seperti zebra cross," ujar Farhan, Senin 14 September 2026.


‎‎Menurutnya, perdebatan mengenai konsep dan penerapan BRT di Kota Bandung masih terus berlangsung. Namun, pemerintah tetap memilih menjalankan program tersebut sembari melakukan berbagai pengujian dan evaluasi di lapangan.

‎‎"Konsep tidak akan pernah bisa kita jalankan tanpa kita kemudian melakukan pengujian-pengujian terhadap hal tersebut," katanya.

‎‎Farhan menyebut Pemkot Bandung terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan sebagai pelaksana program BRT serta Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai aspirasi masyarakat, termasuk keluhan mengenai ketidaknyamanan akibat pembangunan dan pengoperasian BRT, dapat ditindaklanjuti.

‎‎"Saya bersama dengan Kementerian Perhubungan sebagai pelaksana program dari BRT ini dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat terus melakukan komunikasi yang sangat erat. Kami akan terus menyerap berbagai macam aspirasi dari masyarakat tentang ketidaknyamanan akibat dari BRT ini," jelasnya.


‎‎Farhan kembali menjelaskan bahwa konsep BRT Kota Bandung dirancang dengan koridor timur-barat. Jalur tersebut menghubungkan kawasan Kiaracondong hingga Alun-alun Bandung.

‎‎Dari Alun-alun, rute kemudian berlanjut menuju kawasan Stasiun Bandung bagian selatan, Jalan Kebon Jati, kembali menuju Jalan Otto Iskandardinata (Otista), kawasan Tegallega, lalu kembali ke Alun-alun sebelum melanjutkan perjalanan menuju arah timur hingga Kiaracondong.

‎‎"Timurnya mulai dari Kiaracondong sampai ke Alun-alun. Dari Alun-alun muter sampai ke Stasiun Selatan, Jalan Kebon Jati, lalu balik lagi ke Otista, terus Tegallega, balik lagi ke Alun-alun. Dari Alun-alun nanti balik lagi ke arah timur, terus sampai ke Kiaracondong," ungkapnya.


‎‎Ia mengakui penerapan sistem transportasi baru tersebut akan mendorong terjadinya sejumlah perubahan dalam sistem mobilitas masyarakat Kota Bandung. Karena itu, pemerintah juga menyiapkan sistem transportasi pengumpan atau feeder untuk mendukung operasional BRT.

‎‎"Hal ini memang memaksa kita untuk melakukan perubahan-perubahan," ujarnya.

‎‎Pada saat yang sama, kata Farhan, sistem feeder akan memanfaatkan angkutan kota (angkot) yang selama ini telah melayani masyarakat. Dengan demikian, angkot nantinya dapat berperan sebagai penghubung antara kawasan permukiman dan koridor utama BRT.

‎"Pada saat bersamaan, untuk melayani hal tersebut, kita akan membangun sistem feeder, di mana nanti feeder ini adalah angkot-angkot yang selama ini kita kenal," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....