Suara Dentuman Misterius di Bandung, BMKG Sebut ‘Kemungkinan’ Fenomena Skyquake

  • 05 Sep 2026 14:59 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Suara dentuman misterius yang menggegerkan warga terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu 4 September 2026 dini hari mulai sekitar pukul 00.30 WIB. Hingga kini, penyebab suara tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung menyebut fenomena tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit. Kepala BMKG Bandung, Suadi mengatakan peristiwa ini membutuhkan penelitian lebih lanjut dari hipotesis yang ada.

Berdasarkan sejumlah literatur, fenomena yang disebut skyquake ini dapat berkaitan dengan pelepasan gas metana dari kawasan danau purba. Hipotesis tersebut menjadi perhatian karena wilayah Bandung Raya berada di atas kawasan yang dahulu merupakan Danau Bandung Purba.

"Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba," kata Suadi, Sabtu 4 September 2026.

Ia juga mengatakan pihaknya telah memeriksa sejumlah data pemantauan, mulai dari aktivitas kegempaan, cuaca, petir, hingga kondisi magnet bumi pada waktu kejadian sekitar pukul 23.00 WIB hingga 05.00 WIB.

Hasil pemantauan menunjukkan kondisi cuaca di Bandung Raya relatif cerah. BMKG juga tidak menemukan aktivitas gempa di Sesar Lembang, Sesar Cimandiri maupun sejumlah sesar aktif lainnya.

"Berdasarkan data kegempaan BMKG, tidak terdeteksi adanya aktivitas kegempaan di wilayah tersebut," ujar Suadi.

Suadi menjelaskan, suara dentuman dalam sejumlah kejadian sebelumnya dapat berkaitan juga dengan swarm earthquake, gempa kecil, maupun gempa akibat aktivitas di kawasan karst. Fenomena serupa pernah terdengar di Bogor pada April 2020.

Namun, saat kejadian di Bogor tersebut, BMKG juga belum menemukan aktivitas kegempaan maupun petir yang dapat menjelaskan sumber suara dentuman.

Sementara pada peristiwa gempa Cianjur tahun 2025, suara dentuman berhasil dikaitkan dengan aktivitas gempa karena instrumen BMKG merekam gelombang seismik pada saat kejadian.

"Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman," kata Suadi.

Untuk fenomena di Bandung Raya kali ini, kondisi berbeda. Tidak ada rekaman gelombang gempa yang muncul bersamaan dengan suara dentuman tersebut.

Di sisi lain, BMKG menemukan aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau pada waktu yang berdekatan. Data yang digunakan meliputi pemantauan magnetik, aktivitas petir, citra satelit Himawari, serta data kegempaan.

Namun, BMKG sementara ini tidak melihat adanya hubungan langsung antara aktivitas vulkanik Krakatau dengan dentuman yang terdengar di Bandung Raya. Suadi menjelaskan salah satu pertimbangannya adalah tidak adanya laporan serupa dari wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan Krakatau, seperti Banten, Jakarta, dan Bogor.

"Laporan ini dari wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Jadi, kami tidak mendapatkan laporan dari teman-teman di Jakarta, Banten, maupun Kota Bogor dan sekitarnya," ujarnya.

Suadi mengatakan, jika dentuman tersebut benar-benar berasal dari aktivitas vulkanik Krakatau, seharusnya fenomena serupa lebih memungkinkan terdengar di wilayah yang lebih dekat dengan sumber aktivitas.

"Artinya, fenomena aktivitas vulkanik yang ada di Krakatau yang kebetulan bersamaan pada jam tersebut, itu tidak memiliki efek dentuman langit atau yang kita sebut dengan skyquake. Makanya sampai terjadi di Bandung, hanya Bandung Raya dan sekitarnya yang mendengar itu," katanya.

BMKG menilai fenomena tersebut masih menjadi pertanyaan besar bagi para peneliti di bidang ilmu kebumian, geofisika, meteorologi, dan geologi. Kajian lebih lanjut akan dikoordinasikan dengan Badan Geologi dan PVMBG.

Suadi mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. BMKG juga memastikan pemantauan kondisi atmosfer dan kegempaan terus dilakukan selama 24 jam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....