El Nino, Petani Binong Subang Khawatir Gagal Panen

  • 23 Jun 2026 11:23 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Subang - Petani di Kecamatan Binong Kabupaten Subang mulai cemas, menghadapi ancaman kemarau panjang dari fenomena El Nino. Kekhawatiran gagal panen muncul karena sebagian besar sawah, baru selesai diolah dan benih baru ditebar, hal itu diungkapkan salah seorang petani Binong Ahmad Rifai kepada RRI di Subang, Selasa 23 Juni 2026.

"Kebanyakan petani di Binong saat ini, baru selesai tebar benih dan pengolahan lahan, sehingga masih harus menunggu beberapa minggu lagi untuk bisa tanam," ungkap Ahmad Rifai.

Dengan kondisi tanam yang belum serentak, petani khawatir tanaman padi masuk fase kritis, tepat saat puncak kekeringan tiba. Risiko ini dinilai tinggi, karena El Nino Godzilla diprediksi membuat musim kemarau lebih panjang dan ekstrem.

"Kami khawatir terkena dampak kemarau panjang, akibat fenomena El Nino tersebut, hingga gagal panen," tegasnya.

Untuk mencegah kerugian besar, para petani meminta pemerintah, segera turun tangan memberi solusi nyata. Bantuan pengaturan air, dan perhatian khusus dinilai penting, agar petani kecil tidak menanggung beban sendiri.

"Saya meminta pemerintah ikut turun tangan, mengatasi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino tersebut," harap Ahmad Rifai.

Petani berharap, ada kepastian pasokan air irigasi, sebelum tanaman memasuki masa yang membutuhkan banyak air. Tanpa kepastian itu, usaha mereka dari awal musim tanam, bisa sia-sia jika kemarau datang lebih cepat.

"Kalau air irigasi terlambat, jerih payah kami dari mulai olah tanah bisa tidak ada hasilnya," tandasnya.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Subang melalui Bidang Kedaruratan dan Logistik Enda menyatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan ekstrem. Salah satu imbauan utama yang diserukan adalah percepatan tanam, agar tanaman tidak masuk fase kritis saat kemarau puncak.

"Kami mengimbau para petani segera tanam, karena jika terlewat bisa terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino " kata Enda.

Untuk menjaga ketersediaan air, BPBD sudah berkoordinasi intensif dengan BBWS dan PJT II selaku pengelola irigasi. Koordinasi ini bertujuan, untuk memastikan debit dan jadwal air tetap bisa dialirkan ke lahan pertanian, meski kondisi sungai menurun.

"Kami berkoordinasi dengan BBWS dan PJT II, terkait ketersediaan dan pasokan air irigasi, untuk lahan pertanian," imbuhnya.

Antisipasi semakin diperkuat dengan status siaga darurat yang ditetapkan Gubernur Jawa Barat. SK tersebut, mencakup kekeringan dan kebakaran lahan-hutan, sehingga BPBD Subang bisa lebih cepat mengerahkan logistik, dan personel jika dampak El Nino terjadi.

"Langkah tersebut diperkuat oleh SK Gubernur Jawa Barat, tentang status siaga darurat kekeringan, dan kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Subang," tandas Enda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....