Bappenas Apresiasi Desa Jayagiri sebagai Model Ekonomi Desa Berbasis Biogas
- 20 Jun 2026 19:45 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung Barat – Inovasi pengelolaan limbah peternakan menjadi energi biogas dan pupuk organik di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mendapat apresiasi dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas RI.
Program tersebut dinilai menjadi salah satu contoh praktik baik pembangunan ekonomi desa yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Direktur Kemandirian Sosial dan Ekonomi Bappenas RI, Dinar Dana Kharisma, mengatakan pendekatan pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat seperti yang diterapkan di Jayagiri perlu diperkuat karena mampu menciptakan dampak jangka panjang dibandingkan sekadar mengandalkan bantuan sosial.
Menurutnya, pengembangan ekonomi desa yang berorientasi pada kemandirian menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kesenjangan pembangunan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk antara kawasan utara dan selatan Jawa Barat.
“Keberhasilan kolaborasi antara Pesantren Alam, Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan pemerintah desa dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan menjadi referensi penting bagi penyusunan kebijakan di daerah lain,” ujar Dinar saat meninjau lokasi, Sabtu 20 Juni 2026.
Dinar menjelaskan, Bappenas telah mengidentifikasi sejumlah daerah prioritas dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. Karena itu, upaya pembangunan ke depan tidak hanya berfokus pada penurunan angka kemiskinan, tetapi juga mempersempit kesenjangan antarwilayah melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian dan peternakan.
Salah satu potensi yang dinilai menjanjikan di Jayagiri adalah pemanfaatan limbah peternakan sapi. Di wilayah tersebut terdapat sekitar 5.000 ekor sapi yang dikelola oleh 500 hingga 700 peternak. Jika sebelumnya limbah ternak kerap menjadi sumber pencemaran lingkungan, kini dapat diolah menjadi energi terbarukan sekaligus menghasilkan pupuk organik bernilai ekonomi.
Sementara itu, Guru Besar Program Studi Teknik Kimia ITB, Prof. Dr. Ir. Lienda Aliwarga, mengungkapkan fasilitas biogas yang telah dibangun saat ini baru dimanfaatkan sekitar 50 persen dari kapasitas yang tersedia.
“Instalasi yang ada sebenarnya mampu mengolah limbah dari 50 sampai 60 ekor sapi. Namun pemanfaatannya masih terbatas sehingga diperlukan perluasan jaringan distribusi, peningkatan pasokan bahan baku, dan dukungan pembiayaan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan sistem tersebut tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan energi rumah tangga, tetapi juga dapat mendukung operasional usaha kecil dan sektor pengolahan pangan di desa. Selain itu, pupuk organik yang dihasilkan terbukti membantu meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas tanaman.
Kepala Desa Jayagiri, Cece Wahyudin, mengatakan pemerintah desa bersama Bappenas berencana memperkuat kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam waktu dekat. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat perluasan program biogas bagi masyarakat.
“Target kami adalah memperluas layanan biogas hingga menjangkau sekitar 300 kepala keluarga sehingga warga memiliki alternatif energi yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan ketergantungan pada LPG,” kata Cece.
Selain pengembangan biogas, pemerintah desa juga mengusulkan dukungan pada sektor peternakan dan pertanian, mulai dari penyediaan pakan ternak, bibit unggul, hingga perbaikan sanitasi lingkungan. Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga akan diperkuat untuk mendistribusikan pupuk organik hasil pengolahan limbah secara lebih merata kepada para petani.
Dengan potensi yang dimiliki, Desa Jayagiri diharapkan dapat menjadi percontohan pembangunan desa berbasis ekonomi hijau yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....