Eco Enzyme Bandung Perkuat Gerakan Peduli Lingkungan Melalui Kelola Sampah

  • 07 Jun 2026 16:10 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Komunitas Eco Enzyme Bandung (EEB) bersama para pegiat pelestarian lingkungan hidup, didukung Askara Indonesia, menggelar kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-54 pada Minggu 7 Juni 2026, di Plaza Cikapundung River Spot, Kota Bandung.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, melalui aksi nyata pengelolaan sampah organik menjadi produk bermanfaat berupa Eco Enzyme.

Komunitas EEB sebelumnya telah melakukan sejumlah kegiatan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, antara lain Program Citarum Harum yang melibatkan Satgas Kodam III/Siliwangi, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Barat, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kawasan permukiman, sekolah, hingga lokasi wisata.

Ketua Umum Eco Enzyme Bandung, Robert Hadi, menerangkan bahwa Eco Enzyme merupakan cairan alami hasil fermentasi campuran air, gula, serta limbah organik berupa kulit buah dan sayuran yang umumnya berakhir sebagai sampah rumah tangga.

Menurutnya, gerakan Eco Enzyme berkembang pesat di berbagai negara, termasuk Indonesia, karena metode pembuatannya sederhana, mudah diterapkan, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh peneliti asal Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong, yang membagikan formula universal Eco Enzyme dengan perbandingan 1:3:10 secara terbuka kepada masyarakat tanpa dipatenkan.

"Metode ini memungkinkan masyarakat, komunitas, maupun institusi pendidikan untuk mengembangkan dan memanfaatkan Eco Enzyme sesuai kebutuhan. Manfaatnya telah dirasakan dalam berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pertanian, hingga pelestarian lingkungan," ujar Robert, dalam paparannya.

Perkembangan gerakan Eco Enzyme di Bandung tidak terlepas dari peran media sosial, dari aktivitas tersebut lahirlah Komunitas Eco Enzyme Bandung pada akhir 2019. Seiring berjalannya waktu, berbagai komunitas Eco Enzyme di sejumlah daerah kemudian bersatu dalam wadah Eco Enzyme Indonesia Bersatu (EEIB) yang resmi terbentuk pada 4 Januari 2022.

"Kami terus belajar bersama sekaligus mengajak masyarakat melakukan pemilahan sampah organik agar dapat diolah menjadi Eco Enzyme yang memiliki banyak manfaat," katanya.

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, panitia bersama para donatur menyiapkan 54 unit tong berkapasitas 150 liter yang akan digunakan sebagai wadah pembuatan Eco Enzyme secara komunal.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk belajar sekaligus mempraktikkan pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Robert, kegiatan ini merupakan bentuk seruan kepada masyarakat agar tidak berhenti peduli terhadap lingkungan hidup dan terus meningkatkan kontribusi melalui tindakan nyata.

Komunitas Eco Enzyme Bandung meyakini bahwa perubahan iklim yang saat ini terjadi masih dapat dicegah agar tidak semakin memburuk apabila seluruh elemen masyarakat terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan.

Karena itu, gerakan Eco Enzyme diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan nasional yang terus digaungkan, termasuk menjadi bagian dari pendidikan lingkungan di sekolah maupun keluarga.

"Dengan membiasakan anak-anak mengenal pengelolaan sampah sejak dini, diharapkan akan terbentuk perilaku dan budaya peduli lingkungan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya demi menjaga kelestarian bumi," ujar Robert.

Komunitas Eco Enzyme Bandung menyampaikan apresiasi kepada seluruh pegiat lingkungan, relawan, donatur, serta berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-54 di Kota Bandung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....