Pemkot Bandung Perkuat RBM, Wujudkan Kota Inklusif dan Ramah Disabilitas
- 14 Mei 2026 10:21 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan komitmennya dalam membangun kota yang inklusif, aman, dan ramah bagi penyandang disabilitas melalui penguatan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM). Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong kolaborasi lintas sektor guna menciptakan lingkungan yang mendukung bagi penyandang disabilitas dan individu berkebutuhan khusus.
Ketua RBM Kota Bandung periode 2026–2030, Aryatri Benarto mengatakan, penyandang disabilitas membutuhkan lingkungan yang suportif, aman, nyaman, serta memiliki aksesibilitas yang baik agar dapat hidup mandiri dan berdaya.
Menurut Aryatri, pemahamannya mengenai pentingnya inklusi semakin mendalam setelah menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Ia menilai proses adaptasi penyandang disabilitas di tengah masyarakat bukan hal yang mudah tanpa dukungan lingkungan sekitar.
“Adaptasi bagi penyandang disabilitas di lingkungan masyarakat bukan hal mudah. Mereka membutuhkan lingkungan yang suportif, aman, nyaman, dan memiliki aksesibilitas yang baik,” ujar Aryatri, Kamis 14 Mei 2026.
Ia mengungkapkan, kekhawatiran terbesar para orang tua penyandang disabilitas adalah masa depan anak-anak mereka ketika tidak lagi dapat mendampingi secara langsung. Karena itu, ia berharap Kota Bandung dapat menjadi wilayah yang bebas stigma dan diskriminasi.
“Saya ingin suatu hari nanti tempat kita tinggal benar-benar aman dan nyaman bagi anak-anak disabilitas dan individu berkebutuhan khusus. Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi,” katanya.
Aryatri menegaskan, mewujudkan kota inklusif tidak dapat dilakukan hanya oleh satu instansi atau sektor tertentu. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, komunitas, hingga perangkat pemerintah untuk membangun ekosistem yang ramah disabilitas.
“Ini bukan perjuangan satu sektor atau satu dinas, tapi perjuangan bersama seluruh masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai RBM harus menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam memberdayakan kelompok disabilitas di Kota Bandung. Menurutnya, keterlibatan akademisi, komunitas olahraga, seniman, budayawan, pelaku usaha, hingga masyarakat sipil menjadi kekuatan besar dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
“RBM harus menjadi melting pot berbagai ide dan kolaborasi demi pemberdayaan kelompok disabilitas,” ujar Farhan.
Farhan juga menyoroti pentingnya aksesibilitas di berbagai ruang publik, layanan pemerintahan, fasilitas olahraga, hingga tempat ibadah. Ia mengakui tantangan membangun kota yang sepenuhnya inklusif masih cukup besar, terutama dalam penataan infrastruktur publik.
“Setiap pembangunan fisik harus memperhatikan kepentingan extreme user termasuk penyandang disabilitas,” tuturnya.
Selain itu, Pemkot Bandung juga mendorong dunia usaha untuk membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Pemerintah, kata Farhan, perlu menyiapkan skema insentif bagi perusahaan yang memberikan ruang kerja dan kesempatan berkarya bagi kelompok disabilitas.
Di bidang olahraga, Farhan memastikan Kota Bandung siap menjadi tuan rumah Pekan Paralimpik Daerah 2026. Ia menilai olahraga menjadi sarana penting dalam membangun prestasi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri penyandang disabilitas.
“Olahraga bukan hanya soal ekonomi dan event, tapi juga membangun mindset untuk berprestasi,” katanya.
Farhan berharap RBM dapat menjadi advokat yang aktif dalam menjawab berbagai dinamika persoalan disabilitas di tengah perkembangan masyarakat.“Bekerja di RBM bukan untuk mencari keuntungan atau popularitas, tetapi bentuk nyata kerelawanan untuk memberdayakan sesama,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....