Faunaland Dorong Bandung Zoo Pusat Konservasi Modern Berbasis Animal Welfare

  • 13 Mei 2026 18:19 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – CEO Faunaland, Danny Gunalen menegaskan masa depan Bandung Zoo harus dibangun di atas fondasi konservasi, kesejahteraan satwa (animal welfare), serta pengelolaan profesional yang berkelanjutan. Menurutnya, kebun binatang modern tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan konservasi satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati.

‎Pernyataan tersebut disampaikan Danny saat menerima kunjungan media dalam rangkaian kegiatan Faunaland Media Experience pada 11–12 Mei 2026 di Faunaland Buperta Cibubur. Kawasan konservasi urban terbaru milik Faunaland itu dijadwalkan mulai beroperasi pada Juni 2026.

‎Dalam paparannya, Danny menilai perhatian publik terhadap kondisi Bandung Zoo saat ini merupakan hal yang wajar. Ia menyebut kebun binatang yang telah berdiri puluhan tahun tersebut memiliki nilai sejarah dan kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat Kota Bandung.

‎“Bandung Zoo adalah bagian dari sejarah Kota Bandung. Karena itu menurut saya yang paling penting saat ini bukan lagi melihat konflik atau polemik di belakang, tetapi bagaimana memastikan satwa-satwa di sana mendapatkan pengelolaan yang lebih baik ke depan,” ujar Danny Gunalen, Rabu 13 Mei 2026.

‎Ia mengungkapkan, perhatian terhadap kondisi satwa di Bandung Zoo bahkan telah mendapat sorotan internasional setelah muncul berbagai isu mengenai pengelolaan satwa beberapa waktu terakhir. Menurut Danny, keterlibatan Faunaland berawal dari kepedulian terhadap aspek animal welfare dan keberlangsungan konservasi satwa.

‎“Kami mulai prihatin ketika mendengar berbagai isu mengenai kondisi satwa di Bandung Zoo. Mitra kami, Vantara, kemudian meminta tim dokter hewan Vantara untuk melakukan survei kondisi satwa di sana,” katanya.

‎Selain menjalin kerja sama dengan Vantara, Faunaland juga menggandeng Bin Zayed Conservation Foundation dalam penguatan program konservasi dan perlindungan satwa. Kolaborasi internasional tersebut dinilai penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, pengembangan konservasi, peningkatan standar animal welfare, hingga dukungan kesehatan satwa di Indonesia.

‎“Kami percaya pengelolaan konservasi modern harus terus berkembang mengikuti standar global dan didukung kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap konservasi satwa,” ucapnya.

‎Danny menegaskan, konsep kebun binatang modern tidak boleh hanya berorientasi pada aspek komersial semata. Menurutnya, keberhasilan lembaga konservasi diukur dari kemampuan menjaga kesejahteraan satwa sekaligus mendukung program pengembangbiakan satwa.

‎“Kebun binatang bukan hanya tempat memamerkan satwa dan menjual tiket. Pengelolaan kebun binatang yang baik adalah ketika lembaga konservasi mampu mengembangbiakkan satwa dan apabila memungkinkan dapat melakukan pelepasliaran kembali ke habitat alaminya,” lanjut Danny.

‎Ia menjelaskan, keberhasilan reproduksi satwa menjadi salah satu indikator utama bahwa standar pemeliharaan dan kesejahteraan satwa telah berjalan dengan baik.

‎“Kalau satwa bisa berkembang biak dengan baik, itu menunjukkan animal welfare dan kualitas pemeliharaannya juga baik,” ucapnya.

‎Di sisi lain, Danny juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara konservasi dan keberlanjutan operasional lembaga konservasi. Ia menilai dukungan finansial tetap menjadi bagian penting agar program konservasi dapat berjalan dalam jangka panjang.

‎“Ada istilah, ‘no conservation without money’. Konservasi tetap membutuhkan dukungan finansial agar bisa berjalan berkelanjutan. Karena itu pengelolaan kebun binatang harus mampu menyeimbangkan antara animal welfare, edukasi, konservasi dan aspek komersial secara sehat,” katanya.

‎Faunaland sendiri, lanjut Danny, mengembangkan konsep urban conservation yang memadukan edukasi, interaksi satwa, dan pengalaman wisata keluarga di kawasan perkotaan. Konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian satwa sejak usia dini.

‎“Setiap lembaga konservasi tentu memiliki pendekatan dan karakter pengembangan yang berbeda-beda. Faunaland sendiri fokus pada pengembangan urban zoo berbasis edukasi, interaksi satwa dan family experience di tengah kawasan perkotaan,” ucapnya.

‎Terkait proses seleksi pengelola Bandung Zoo, Danny menegaskan seluruh mekanisme sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Kota Bandung bersama kementerian terkait. Pihaknya menghormati seluruh proses yang sedang berjalan.

‎“Kami menghormati seluruh proses yang berjalan. Fokus kami adalah memperkenalkan konsep pengelolaan konservasi, animal welfare dan family experience yang kami miliki,” katanya.

‎Menurut Danny, Bandung Zoo memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat konservasi satwa endemik Jawa Barat. Salah satu fokus yang dinilai penting adalah penguatan konservasi Macan Tutul Jawa yang populasinya kini semakin terancam di habitat alami.

‎“Bandung Zoo punya sejarah konservasi yang sangat baik, termasuk keberhasilan penangkaran tapir. Ke depan kami melihat potensi besar untuk memperkuat konservasi satwa endemik Jawa Barat seperti macan tutul Jawa yang populasinya saat ini semakin terancam,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....