Pemkot Bandung Benahi Sempadan Sungai dan Sistem Drainase

  • 08 Feb 2026 16:44 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana longsor dan pergerakan tanah, khususnya di kawasan sempadan sungai dan wilayah dengan sistem drainase bermasalah. Langkah antisipatif ini dilakukan meskipun kondisi cuaca saat ini terpantau relatif normal dan curah hujan berada pada kategori menengah hingga rendah.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar di kemudian hari. Ia menyoroti masih adanya kejadian rumah rubuh di sejumlah titik, meski tidak disertai hujan deras.

“Walaupun cuaca lagi tidak ada apa-apa, itu ada rumah rubuh. Rumah-rumah yang memang umurnya sudah lebih rentan, ini sekarang kita sedang waspadai untuk menghadapi risiko bencana longsor di sempadan sungai. Nah, longsor di sempadan sungai sekarang kita lagi beres-bereskan. Jangan sampai ketika curah hujannya sudah sangat besar, baru kita bertindak, ya akan terlambat,” ujar Farhan, Minggu 8 Februari 2026.

Farhan mengungkapkan, berdasarkan hasil pertemuan bersama Wakil Gubernur Jawa Barat di Kuningan, Kepala BMKG Jawa Barat menyampaikan bahwa curah hujan di Kota Bandung dan sekitarnya berada pada level menengah hingga rendah. Kendati demikian, Pemkot Bandung tidak ingin lengah karena indikasi bencana pergerakan tanah sudah mulai terlihat di sejumlah lokasi.

“Kepala BMKG Jawa Barat mengatakan bahwa untuk Kota Bandung dan sekitarnya cuaca hujannya adalah menengah ke rendah. Namun, kita tidak boleh tidak waspada. Bencana pergerakan tanah, kita lihat ini sudah mulai terjadi. Saya sudah curiga, dari sejak April tahun lalu, jalan-jalan Kota Bandung ini sudah mulai mengalami pergerakan tanah mikro,” katanya.

Ia mencontohkan salah satu titik yang hingga kini menjadi tantangan serius, yakni kawasan Jalan Cihampelas, tepatnya di depan Hotel Grand Tjokro. Di lokasi tersebut, kondisi kirmir dan badan jalan kerap mengalami longsor meskipun tidak turun hujan.

“Kalau teman-teman mau lihat, di depan Hotel Grand Tjokro, di Jalan Cihampelas, itu kirmirnya selalu longsor. Jalan tidak terganggu pun selalu longsor. Kenapa? Enggak hujan saja, airnya sangat deras. Ini salah satu tantangan yang kita hadapi di Kota Bandung,” katanya.

Sementara itu, untuk wilayah yang tidak memiliki kontur terlalu curam, Farhan menyebut terdapat dua titik yang saat ini menjadi perhatian utama, yakni kawasan Rancanumpang dan Cibaduyut. Berdasarkan analisis sementara, permasalahan utama di dua wilayah tersebut berkaitan dengan sistem drainase yang belum optimal.

“Kalau untuk daerah-daerah yang tidak curam, yang paling bermasalah itu ada di dua titik. Pertama di daerah Rancanumpang, dan di daerah Cibaduyut. Sementara ini analisis kita menunjukkan perlu ada perbaikan drainase,” ungkapnya.

Namun demikian, Farhan menilai persoalan yang terjadi tidak semata-mata soal drainase lokal, melainkan juga berkaitan dengan sistem hidrologi yang lebih luas. Ia mencontohkan kawasan Rancasari yang erat kaitannya dengan pengelolaan aliran Sungai Cinambo.

“Namun, saya yakin sebetulnya ada masalah sistem hidrologi yang jauh lebih luas dari itu. Contohnya di Rancasari, itu menyangkut masalah pengelolaan sistem Sungai Cinambo, itu mesti kita perhatikan secara serius,” katanya.

Adapun di wilayah Cibaduyut, persoalan utama terletak pada arah aliran drainase yang bermuara ke kawasan selatan Kota Bandung, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung.

“Di Cibaduyut itu adalah masalah bagaimana drainase kemudian mengarah ke daerah yang lebih rendah, di daerah selatan Kota Bandung, yang merupakan perbatasan antara kota dan kabupaten,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....