Ketahanan Iklim Desa Dinilai jadi Penopang Pangan Nasional

  • 21 Jan 2026 19:39 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung Barat — Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) bersama Bank Dunia menegaskan bahwa ketahanan iklim desa menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekonomi dan ketahanan pangan nasional. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Global Knowledge Sharing Workshop yang diikuti perwakilan dari berbagai negara.

Menteri Desa PDT Yandri Susanto yang diwakili oleh Taufik Hidayat menyampaikan, desa memiliki peran strategis dalam menjaga rantai produksi pangan nasional, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang kian ekstrem.

“Desa-desa yang berketahanan iklim adalah kunci untuk memastikan produksi komoditas tetap berjalan. Kota-kota besar bergantung pada desa dalam pemenuhan kebutuhan pangan,” ujar Taufik, di Desa Kertawangi Kec Cisarua kabupaten Bandung Barat, Rabu 21 Januari 2026.

Ia menilai, perubahan iklim tidak lagi menjadi isu jangka panjang, melainkan tantangan nyata yang berdampak langsung pada ribuan desa. Karena itu, penguatan literasi dan kesiapsiagaan masyarakat desa menjadi agenda mendesak.

“Ketika iklim berdampak, desa yang paling merasakan. Ribuan desa terdampak banjir, longsor, kekeringan. Desa harus menjadi pelaku utama dalam menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Baca juga : Masyarakat Jawa Barat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Taufik menambahkan, lebih dari 75 ribu desa di Indonesia membutuhkan dukungan lintas sektor, baik dari pemerintah, lembaga internasional, maupun masyarakat itu sendiri, untuk membangun ketahanan iklim yang berkelanjutan. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Literasi, kemauan, dan kesadaran kolektif bahwa iklim adalah tanggung jawab bersama menjadi kunci,” tegasnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kab Bandung Barat, Dudi Supriadi, menilai perubahan pola iklim yang semakin cepat menuntut desa-desa untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Proyeksi BMKG menunjukkan siklus iklim ekstrem semakin pendek. La Nina dan cuaca ekstrem berpotensi lebih sering terjadi. Artinya, desa harus lebih siap menghadapi kondisi terburuk,” jelas Dudi.

Ia menekankan bahwa konsep ketahanan tidak berhenti pada mitigasi, tetapi juga mencakup adaptasi hingga membangun daya tahan jangka panjang desa agar mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. “Ketahanan desa adalah kemampuan bertahan di situasi paling sulit sekalipun. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci,” ujarnya.

Dari tingkat desa, Kepala Desa Kertawangi, Yanto bin Surya, menuturkan bahwa tantangan pembangunan desa tidak terelakkan, terutama dalam menjaga keberlanjutan program lingkungan. “Tantangan terbesar adalah konsistensi. Program yang sudah berjalan harus terus dipertahankan dan ditingkatkan,” katanya.

Sebagai desa penyangga sumber air bagi Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat, Kertawangi memiliki peran ekologis strategis. Dalam rangkaian kegiatan workshop tersebut, dilakukan pula penanaman pohon sebagai langkah konkret menjaga keseimbangan lingkungan.

“Setiap jengkal tanah di sini punya fungsi penting. Penanaman pohon bertujuan memperkuat daya resap air, mencegah longsor, dan menjaga keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang,” pungkas Yanto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....