Pemkot Tekan Timbulan Sampah dan Cegah Banjir

  • 25 Okt 2025 22:04 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat upaya pengelolaan sampah di tingkat wilayah dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung. Melalui program “Gaslah” (Gerakan Sadar Lingkungan dan Kebersihan), para petugas di tingkat RW hingga kelurahan kini semakin aktif digerakkan untuk menangani sampah dari sumbernya.

“Sebenarnya untuk penanganan sampah kita sudah ada Gaslah. Gaslah ini adalah petugas di tingkat RW sampai tingkat kelurahan yang sudah mulai digerakkan,” ujar Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, Minggu (25/10/2025).

Program ini menjadi salah satu strategi penting Pemkot Bandung dalam menekan volume sampah yang diangkut ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA), sekaligus mendorong kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.

Baca juga:Pangan Murah Pemda Ringankan Beban Warga Padalarang

Erwin menyebutkan, upaya tersebut sudah menunjukkan hasil positif. Volume sampah di Kota Bandung yang sebelumnya mencapai 1.500 ton per hari, kini berhasil ditekan menjadi sekitar 1.200 ton per hari. Meski penurunan tersebut belum signifikan, namun menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

“Kita paham bahwa dari 1.500 ton turun menjadi sekitar 1.200 ton, jadi ada penurunan. Ini artinya peran masyarakat dan petugas lapangan sudah mulai terlihat. Tapi yang terpenting, warga diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke jalan atau sungai,” katanya.

Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan menjadi hal yang sangat krusial, terutama saat memasuki musim hujan seperti sekarang. Sampah yang dibuang sembarangan berpotensi terbawa air ke saluran drainase dan sungai, sehingga bisa menyumbat aliran air dan memicu banjir lokal di beberapa titik rawan.

Selain menggerakkan petugas Gaslah, Pemkot Bandung juga memperkuat sistem pengendalian air melalui pembangunan rumah pompa dan kolam retensi di sejumlah kawasan. Namun, Erwin menegaskan bahwa infrastruktur tersebut tidak akan efektif tanpa dukungan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami terus mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Petugas Gaslah memang berperan penting, tapi kalau warga masih buang sampah sembarangan, upaya ini tidak akan maksimal,” ucapnya.

Program Gaslah kini telah dijalankan di hampir seluruh kecamatan di Kota Bandung. Petugas di tingkat RW melakukan pemantauan, pengumpulan, hingga edukasi warga terkait pemilahan sampah organik dan anorganik. Beberapa wilayah bahkan mulai menerapkan bank sampah lokal yang mampu menambah nilai ekonomi dari pengelolaan limbah rumah tangga.

Di samping itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung juga terus memperkuat sinergi dengan perangkat kewilayahan untuk memastikan seluruh titik pengumpulan sampah berjalan efektif dan tidak menumpuk.

“Kita ingin membangun budaya baru di masyarakat bukan hanya membuang sampah dengan benar, tapi juga berpikir bagaimana mengurangi dan mengelolanya dari rumah,” paparnya.

Pemkot Bandung menargetkan dalam beberapa tahun ke depan, volume sampah bisa ditekan hingga 30 persen dari total timbulan harian, seiring dengan penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas dan teknologi ramah lingkungan.

Dengan dukungan penuh dari masyarakat, Bandung diharapkan bisa menjadi kota yang bersih, tangguh, dan bebas banjir, sekaligus menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah perkotaan di Jawa Barat.

“Mari kita sama-sama jaga kebersihan, karena satu plastik yang dibuang sembarangan bisa menimbulkan masalah besar bagi lingkungan. Gaslah ini bukan sekadar program, tapi gerakan moral untuk menjaga Bandung tetap nyaman dan indah,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....