Pegadaian bersama OJK Jabar Genjot Literasi Keuangan Gen Z di ITB Jatinangor

  • 04 Agt 2026 15:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Masih rendahnya kesadaran pengelolaan keuangan di kalangan generasi muda, menjadi perhatian serius di tengah maraknya pinjaman online ilegal, judi online, hingga fenomena konsumtif akibat FOMO. Menghadapi fenomena ini, PT Pegadaian bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat menggenjot literasi keuangan bagi mahasiswa.

Upaya tersebut dilakukan melalui talkshow bertajuk Financial Literacy on The Way-Finansial Mandiri Dimulai Hari Ini, yang digelar di Kampus ITB Jatinangor, Selasa 4 Agustus 2026.

Penyuluh Antikorupsi PT Pegadaian, Didik Bintoro Saputro mengatakan, edukasi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengelolaan keuangan, tetapi juga menanamkan nilai integritas sejak dini kepada generasi muda. Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan tidak akan berarti jika diperoleh melalui cara-cara yang tidak benar.

“Kalau tidak dipupuk dari sekarang, kemampuan untuk mengelola keuangan percuma kalau hasil yang didapatnya dengan cara-cara yang tidak baik,” ujar Didik.

Ia menegaskan, integritas harus dibangun sejak muda, khususnya di kalangan mahasiswa agar terbentuk pola pikir yang sehat saat memasuki dunia kerja.

“Integritas itu maksudnya kebiasaan dari teman-teman. Jadi pola pikirnya harus seperti apa. Cara mendapatkannya itu tidak instan. Kan kadang-kadang kalau kita tidak pupuk dari sekarang, nanti di dunia kerja kan mereka akan melakukan apa saja demi mencapai suatu tujuan,” katanya.

Sementara itu, Sales Business to Business Senior PT Pegadaian area Tasikmalaya, Muhammad Razhi menilai banyak mahasiswa belum memiliki perencanaan keuangan yang matang untuk masa depan. Menurut dia, mahasiswa umumnya masih berada pada fase mencari jati diri, sehingga belum memikirkan kebutuhan modal usaha maupun persiapan keuangan setelah lulus kuliah.

“Yang mana kalau kita mau buka usaha, kita harus memiliki modal. Nah, untuk membuat modal itu sendiri kita harus mulai tanamkan dari sekarang. Caranya adalah melalui dengan investasi. Salah satunya bisa ke investasi emas itu,” ujarnya.

Razhi menegaskan, edukasi keuangan juga menjadi salah satu cara mencegah generasi muda terjerumus ke praktik pinjaman online ilegal maupun judi online.

“Jadi tidak ada alasan nih sekarang mahasiswa karena belum memiliki pendapatan tidak bisa berinvestasi. Jadi jangan nunggu mapan dulu baru investasi, tapi kita harus mulai investasi dulu agar bisa mapan di kemudian hari,” katanya.

Ia menjelaskan program literasi keuangan tersebut tidak hanya menyasar mahasiswa ITB, melainkan dilakukan secara berkelanjutan di berbagai kampus dan daerah di Indonesia.

“Tapi kita melakukan terus ke berbagai universitas. Kita masif dari kota ke kota, melakukannya dari program ke program juga. Ada yang kita guide dengan OJK juga, ada yang kita memang mandiri lakukan secara rutin bulanan,” ungkap Razhi.

Selain menyasar perguruan tinggi, Pegadaian juga menjalankan program edukasi bagi masyarakat di daerah terpencil melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan atau Gencarkan yang berada dalam pengawasan OJK.

“Itu di mana kita wajib melakukan edukasi ke dalam wilayah-wilayah yang terpencil, tertinggal, dan terluar. Itu kita masih menggerakkan sampai dengan akhir tahun nanti,” katanya. Dalam kesempatan itu, Razhi juga mengajak masyarakat mulai berinvestasi emas karena dinilai sederhana, mudah diakses, dan dapat dimulai dengan nominal kecil.

“Kita bisa nabung mulai dari 10.000 aja udah bisa berinvestasi emas. Jadi udah tidak usah ragu lagi, dan pilihlah tempat untuk berinvestasi di tempat yang aman dan terpercaya,” ujarnya.

Sisi lain, Asisten Manajer Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Edukasi Perlindungan Konsumen OJK Jawa Barat, Friska Magdalena mengingatkan mahasiswa agar lebih bijak mengelola keuangan di era digital. Menurutnya, generasi muda harus memahami berbagai risiko yang muncul akibat kemudahan akses teknologi dan layanan keuangan digital.

Friska menyoroti fenomena FOMO (Fear of Missing Out), FOPO (Fear of Other People's Opinion), dan YOLO (You Only Live Once) yang kini banyak memengaruhi perilaku konsumtif anak muda. “Nah, fenomena-fenomena ini mendorong ya, seorang individu itu melakukan yang namanya impulsive buying,” kata Friska.

Sebab itu, ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan yang cerdas, tetapi juga mampu menjadi agen literasi keuangan di lingkungan sekitarnya sehingga masyarakat semakin terlindungi dari berbagai risiko keuangan digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....