Mahasiswa Unsoed Libatkan Remaja Kampung Naga Sebagai Agen Perubahan Lingkungan
- 01 Jun 2026 09:54 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Mahasiswa Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), melaksanakan kegiatan pemberdayaan remaja di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, mengenai perilaku sehat dan kebersihan lingkungan, Minggu, 31 Mei 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Pertemuan Kampung Naga, diikuti remaja usia 10 hingga 18 tahun.
Salah seorang mahasiswa, Doni Juliana mengatakan, tujuan dari kegiatan ini untuk membangun kesadaran remaja melalui pemahaman atas kondisi lingkungan saat ini, dan akan menjadi 'titik nol' pergerakan pemberdayaan. Remaja yang dilibatkan sebagai agen perubahan lingkungan bukan sekadar upaya teknis, melainkan strategi yang penting untuk menjaga ketahanan budaya dan ekologi wilayah adat.
“Tentunya di tengah gempuran modernitas dan peningkatan arus wisatawan, kebersihan lingkungan menjadi cermin kepatuhan terhadap amanah leluhur. Program yang dilakukan ini, memposisikan remaja bukan sebagai objek edukasi, melainkan sebagai subjek peneliti dan pengambil keputusan yang memiliki tanggung jawab moral sebagai "Penjaga Lembah" untuk memastikan kelestarian Hutan Tutupan dan kejernihan Sungai Ciwulan,” katanya, Senin 1 Juni 2026.
Pemberdayaan remaja menjadi metode intervensi kesehatan yang paling efektif di Kampung Naga karena beberapa alasan, diantaranya remaja sebagai "Jembatan Budaya" (Cultural Brokers), dimana remaja Kampung Naga memiliki posisi yang sangat unik.
“Mereka adalah penduduk asli yang terikat kuat dengan tradisi karuhun (leluhur), namun mereka juga mengenyam pendidikan di luar kampung (SMP/SMA) dan berinteraksi dengan dunia modern sehingga mereka memahami kedua dunia. Remaja dapat menyerap konsep kesehatan medis dari luar lalu "menerjemahkannya" ke dalam bahasa dan praktik keseharian yang dapat diterima oleh komunitas adat tanpa melanggar aturan tabu (pamali),” ujarnya.
Selain itu peran remaja mengatasi hambatan komunikasi akibat pamali (Tabu)
Isu-isu kesehatan tertentu, khususnya kesehatan reproduksi, pubertas, dan menstruasi, yang sering kali dianggap “pamali” atau kurang pantas jika dibicarakan secara terbuka antara orang tua dan anak dalam budaya Sunda buhun. Remaja dapat menjadi solusi edukasi sebaya (Peer Education), dengan memberdayakan remaja sebagai pendidik sebaya (kader kesehatan remaja), informasi sensitif dapat disalurkan dengan bahasa yang lebih santai dan nyaman.
“ iya, nantinya remaja akan jauh lebih terbuka menceritakan masalah kesehatan reproduksi atau stres psikologis kepada teman sebayanya dibandingkan kepada tokoh adat atau orang tua,” katanya.
Doni juga mengatakan, remaja akan menjadi
Agen literasi di tengah pembatasan teknologi. Dimana, kawasan inti Kampung Naga menolak penggunaan listrik dan gawai pintar. Namun, remaja Kampung Naga tetap memiliki literasi digital karena mereka mengakses gawai dan internet saat berada di luar area kampung (misalnya di sekolah).
“Remaja menjadi penyaring informasi, sehingga jika mereka diberdayakan dengan pengetahuan kesehatan yang benar, remaja dapat menjadi "agen penyaring". Mereka bisa mencari solusi kesehatan atau informasi medis yang valid dari internet di luar kampung, dan membawa pengetahuan tersebut ke dalam kampung untuk melawan mitos atau hoaks kesehatan tanpa melanggar larangan membawa alat elektronik ke dalam area adat,” ujarnya.
Selain itu, dengan nilai gotong royong dan kohesi sosial di Kampung Naga sangat tinggi, remaja di wilayah Kampung Naga biasanya bergerak dalam kelompok sebaya yang solid. Pemberdayaan remaja di Wilayah Kampung Naga ini akan menciptakan efek domino. Jika kader remaja mempelopori suatu kebiasaan sehat baru (misalnya cara membuang sampah pembalut yang aman secara lingkungan agar tidak mencemari sungai Ciwulan), kelompok remaja lainnya akan dengan cepat mengadopsi perilaku tersebut karena tingginya rasa kebersamaan.
Hal ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk pelestarian adat. Dimana keberlanjutan sebuah komunitas adat sangat bergantung pada kualitas generasi penerusnya. Masyarakat Kampung Naga sadar betul bahwa untuk bisa terus melestarikan adat istiadat, mereka membutuhkan generasi muda yang sehat secara fisik dan mental. Tokoh adat (Kuncen) dan para sesepuh umumnya akan sangat mendukung program yang berfokus pada remaja jika program tersebut dikemas sebagai upaya "membentengi" generasi muda agar tetap sehat dan kuat dalam meneruskan warisan leluhur, bukan sebagai upaya "modernisasi" yang mengubah tatanan adat.
Sementara itu, dalam kegiatan tersebut sejumlah mahasiswa juga turut berperan. Mereka adalah Nurendah Agung Permatawati, serta Yuni Aries Viftiani, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Unsoed.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....