Puluhan Siswa di Taraju Tasikmalaya Belajar di Rumah Panggung dengan Atap Bocor
- 21 Jul 2026 21:13 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Menjelang usia ke 392, Kabupaten Tasikmalaya 26 Juli 2026 mendatang, potret pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah setempat. Ini terbukti, dengan masih adanya sarana dan prasarana pendidikan yang tidak layak
Seperti halnya di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Disini terdapat sekolah kelas jauh SDN Kubangsari dengan 25 siswa, yang terpaksa harus belajar di sebuah bangunan berupa rumah panggung.
Jangankan bangku ataupun papan tulis bagus, untuk belajar pun, 25 siswa SD ini harus berdesakan. Mereka rela duduk dengan alas papan kayu yang sudah lapuk untuk mengejar cita- cita.
Bangunan tersebut berdiri di atas lahan yang didirikan secara swadaya oleh masyarakat dan pemerintah desa. Bangunan yang awalnya memang rumah panggung ini hanya berukuran 5x4 meter, dengan dinding bilik.
Meskipun sempit, bangunan kelas jauh ini diisi dua tingkatan. Kelas I sebanyak 9 orang, dan kelas II sebanyak 16 orang.
Hal itu diperparah dengan atap bangunan yang bocor. Ketika hujan turun, tempat belajar siswa menjadi basah.
"Kondisinya memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruangan kelas baru yang permanen," kata Epi, guru kelas jauh yang telah mengabdi selama tiga tahunp.
Untuk proses belajar, Epi yang berstatus guru sukwan selaku guru kelas bersama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) setia mengajar. Karena merupakan kelas jauh, siswa yang naik ke kelas 3, harus menempuh perjalanan jauh sekira 2 kilometer menuju sekolah induk di SDN Kubangsari.
Sementara sebelumnya, keberadaan kelas jauh ini berangkat dari kondisi warga yang pada saat itu buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Krisis pendidikan disebabkan sulitnya akses menjangkau pendidikan.
Anak-anak harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer melintasi bukit, lembah, area persawahan, hingga menyeberangi sungai. Karena medan yang berat dan berbahaya, banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anak mereka.
Dengan kondisi darurat tersebut, pemerintah daerah dan pemerintah desa akhirnya sepakat mendirikan kelas jauh pada tahun 2016. "Dulu tempat ini dibangun sekitar tahun 2017 dengan segala keterbatasan. Anggaran tanahnya dari kas desa dan urunan warga. Namun karena dananya terbatas, kami membeli rumah panggung untuk menjadi bangunan kelas ini," kata Kepala Desa Kertaraharja, Agus, Selasa 21 Juli 2026.
Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut semakin rapuh, bahkan membahayakan keselamatan siswa. “dulu kami dijanjikan akan dibangunkan gedung kelas jauh yang permanen jika desa sanggup menyiapkan lahan. Namun ketika lahan ada, bangunan gedung baru yang dijanjikan sewaktu Bupatinya pak Uu hingga tiga kali berganti bupati, itu tidak pernah terealisasi, janji tinggal janji,” ujarnya.
“Kami berharap pemerintah kabupaten segera turun tangan membangun ruang kelas permanen yang layak,” katanya menambahkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....