Cara Merawat Budaya Dengan Dongeng Sunda

  • 29 Sep 2026 03:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Dongeng Sunda dinilai masih memiliki peran penting dalam menjaga bahasa, budaya, dan nilai kehidupan masyarakat di tengah perkembangan teknologi serta semakin beragamnya hiburan digital.

Tokoh pendongeng Sunda, Mang Ian, menyampaikan hal tersebut dalam obrolan budaya yang disiarkan melalui kanal YouTube RRI Bandung Live pada 5 September 2026. Dalam siaran jaringan RRI Bandung, RRI Bogor, dan RRI Cirebon itu, Mang Ian berbagi pengalaman menekuni dunia dongeng sekaligus memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan cerita Sunda kepada masyarakat luas.

Menurut Mang Ian, kecintaannya terhadap dongeng telah tumbuh sejak masih duduk di sekolah dasar. Saat tinggal di kawasan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, ia kerap mendengarkan dongeng melalui radio dari seorang pendongeng bernama Mang Barna. Kebiasaan tersebut kemudian kembali muncul ketika ia bersama teman-temannya mengenang kehidupan masa lalu.

Ia mengatakan, kegiatan mendongeng yang dilakukannya melalui media sosial pada awalnya hanya untuk bersenang-senang. Namun, rekaman tersebut kemudian dibagikan kembali oleh masyarakat melalui Facebook dan YouTube hingga menarik perhatian banyak pendengar. Dari respons tersebut, Mang Ian akhirnya terus membuat konten dongeng dan hingga kini telah menjalani aktivitas tersebut sekitar tiga tahun.

“Yang awalnya hanya untuk senang-senang, ternyata banyak yang merekam dan mengunggah. Dari situ orang-orang mulai mencari akun saya dan meminta supaya terus membuat dongeng,” ujar Mang Ian dalam tayangan RRI Bandung Live.

Mang Ian menjelaskan, dongeng tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan cara berpikir, berbicara, dan bersikap masyarakat pada masa lalu. Bahasa dalam dongeng Sunda juga kerap menggunakan sindiran, perumpamaan, dan simbol sehingga pesan dapat disampaikan secara halus tanpa harus menggunakan kata-kata yang kasar atau menyinggung.

Menurutnya, cerita rakyat juga menyimpan nilai sastra dan pelajaran kehidupan. Tokoh dalam cerita tidak selalu digambarkan sebagai sosok yang sempurna, tetapi dapat melakukan kesalahan, menerima akibat dari perbuatannya, kemudian menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Nilai tersebut dinilai tetap relevan bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Dari cerita rakyat ada nilai-nilai kehidupan. Ada tokoh yang salah, kemudian menerima akibat dari perbuatannya, menyesal dan ingin berubah menjadi lebih baik,” katanya.

Untuk menjangkau generasi muda, Mang Ian memanfaatkan sejumlah platform digital, seperti TikTok, YouTube, dan Instagram. Ia menyebut respons masyarakat cukup besar karena dongeng tidak hanya dianggap sebagai cerita, tetapi juga menjadi hiburan yang dapat menemani masyarakat ketika beristirahat dari kesibukan sehari-hari.

Ia bahkan menyebut pendengarnya tidak hanya berasal dari Indonesia. Sejumlah masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri turut mengikuti dongengnya, sementara sebagian pendengar dari luar daerah dan luar negeri menikmati intonasi serta karakter bahasa Sunda meskipun tidak seluruhnya memahami makna cerita.

Dalam menjaga keseimbangan antara perkembangan media sosial dan nilai budaya, Mang Ian berpegang pada prinsip bahwa warisan masa lalu harus tetap dibawa ke kehidupan masa kini. Menurutnya, budaya leluhur tidak harus ditinggalkan karena perkembangan zaman, tetapi dapat dikemas melalui media yang digunakan masyarakat saat ini.

Mang Ian juga mengungkapkan rencana membangun pusat seni dan budaya di kawasan Gunung Halu. Tempat tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bahasa Sunda, adat istiadat, kesenian, serta filosofi kehidupan masyarakat Sunda sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus pelestari budaya.

Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Sunda, untuk kembali memberi ruang bagi budaya leluhur dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Mang Ian, mendengarkan dan menceritakan dongeng juga dapat menjadi salah satu cara membangun kembali interaksi keluarga di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin banyak menghabiskan waktu dengan perangkat digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....