Wamen Ekraf, Kebangkitan Radio Adaptasi Model Bisnis Kreatif

  • 08 Feb 2026 14:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan keberlanjutan industri radio di tengah perubahan lanskap media dan bisnis. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan dunia usaha terhadap radio sebagai medium komunikasi publik yang masih relevan dan memiliki kekuatan besar di tengah masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan bahwa radio hingga kini tetap memiliki peran strategis sebagai sarana komunikasi sosial, meskipun secara bisnis mengalami penyusutan. Ia mengakui, ukuran industri radio saat ini memang tidak sebesar sebelumnya, yang berdampak langsung pada penurunan belanja iklan.

“Ini tentunya salah satu bentuk perjuangan agar kita bisa mengembalikan kepercayaan dunia bisnis kepada dunia radio. Itu bagian dari fungsi bagaimana sebetulnya radio masih sangat bisa digunakan sebagai bentuk komunikasi masyarakat,” ujar Farhan saat ditemui di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Minggu, 8 Februari 2026.


Baca Juga: Pemerintah Jaga Keberlangsungan Radio di Tengah Gempuran Digital


Menurut Farhan, tantangan yang dihadapi radio justru harus dijadikan momentum untuk berinovasi dan beradaptasi. Ia menilai radio tidak hanya sekadar media hiburan, tetapi juga memiliki kekuatan dalam membangun kedekatan emosional dengan pendengarnya, sesuatu yang belum tentu dimiliki media lain.

Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, menilai bahwa perjuangan mempertahankan eksistensi radio dan industri kreatif secara umum tidak selalu identik dengan kesulitan atau situasi yang suram. Sebaliknya, proses perjuangan justru dapat memperkuat kolaborasi dan solidaritas antar pelaku industri.

“Perjuangan itu nggak selalu sedih kok. Perjuangan itu yang merapatkan kita semua. Seperti dulu waktu kita kuliah memperjuangkan IPK, dari situ kita belajar berjuang dan merapatkan barisan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan tersebut juga dirasakan di seluruh sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, dunia saat ini sedang berada di persimpangan penting, apakah hanya menjadi pengikut tren global atau justru tampil sebagai pemimpin yang membawa perubahan positif.

“Pertanyaannya sekarang, kita mau jadi followers atau leader yang mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Dan saya merasa Indonesia bisa menjadi leader tersebut,” katanya.

Irene pun mengajak seluruh insan kreatif, termasuk para pelaku radio, untuk bersama-sama memikirkan model bisnis yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Ia menilai, ke depan radio tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan dari iklan semata.

“Yuk kita mikirin bareng-bareng business model-nya seperti apa. Apakah radio masih main income berbasis iklan, atau ke depan berbasis komunitas, berbasis para listeners. Ini business model yang harus mulai kita godok,” paparnya.

Irene menambahkan bahwa dari sisi infrastruktur, dunia penyiaran radio saat ini sebenarnya sudah cukup memadai. Dengan dukungan teknologi digital dan platform daring, jangkauan radio kini tidak lagi terbatas pada wilayah lokal semata.

“Bukan hanya melihat ‘oh saya radio Bandung, maka saya hanya melayani teman-teman di Bandung’. Dengan perkembangan teknologi, apa yang kita layani sekarang adalah global audience,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....