BPBD Kota, Evaluasi Simulasi Evakuasi Mandiri Tingkat RW
- 02 Feb 2026 11:49 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung akan melakukan evaluasi sekaligus menggelar simulasi penanggulangan bencana pada April 2026 mendatang. Kegiatan tersebut meliputi simulasi evakuasi mandiri di tingkat Rukun Warga (RW) serta simulasi Sistem Komando Penanggulangan Bencana Daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengatakan simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh unsur, baik masyarakat maupun aparatur pemerintah, dalam menghadapi potensi bencana.“Rencananya pada bulan April nanti akan dilaksanakan simulasi evakuasi mandiri setingkat RW, satu RW seperti yang dulu pernah dilakukan di wilayah Sekeloa. ,”ujar Didi, Senin 2 Februari 2026.
Menurutnya, kedua simulasi tersebut memiliki fokus yang berbeda. Simulasi evakuasi mandiri lebih diarahkan pada peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat, sementara simulasi sistem komando ditujukan untuk meningkatkan kemampuan aparatur dan perangkat daerah dalam penanganan bencana secara terpadu.
“Kalau yang pertama itu simulasinya untuk peningkatan kapasitas masyarakat. Sedangkan yang kedua, simulasi sistem komando, lebih kepada peningkatan kapasitas aparaturnya,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Kepokmas Bandung Relatif Stabil Jelang Ramadan
Didi menambahkan, dalam simulasi sistem komando tersebut akan diuji secara menyeluruh peran dan fungsi masing-masing unsur penanggulangan bencana. Mulai dari kesiapan tim SAR, manajemen logistik, pengelolaan dapur umum, hingga layanan medis saat terjadi bencana.
“Tim SAR-nya bekerja seperti apa, manajemen logistiknya bagaimana, dapur umumnya seperti apa, termasuk pelayanan medisnya. Peningkatannya kira-kira ada di situ,” katanya.
Namun demikian, BPBD Kota Bandung juga mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan dalam upaya penanggulangan bencana. Salah satunya adalah keterbatasan peralatan yang dimiliki BPBD.
“Tantangannya, yang pertama secara peralatan kita relatif belum lengkap. Karena itu koordinasi yang kuat dengan OPD-OPD yang memiliki peralatan menjadi kunci,” ungkapnya.
Selain itu, keterbatasan jumlah personel juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut menuntut seluruh jajaran BPBD untuk bekerja secara maksimal dan lintas fungsi.
“Secara personel kita masih sedikit, jadi kita masih ‘total football’. Satu orang ikut di perencanaan, ikut juga di pelaksanaan, sekaligus ikut di pemantauan. Jadi semuanya bergerak bersama,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....