Antisipasi Kemacetan, Siapkan Rekayasa Lalin Jelang Operasional BRT

  • 31 Jan 2026 10:57 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mengantisipasi potensi kemacetan lalu lintas seiring rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) yang akan melintasi jalur on corridor sepanjang 21 kilometer. Meski berpotensi menimbulkan kepadatan, Dishub memastikan berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, khususnya untuk jangka pendek.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengatakan bahwa dampak terhadap lalu lintas merupakan konsekuensi yang sudah diperhitungkan sejak awal perencanaan. Menurutnya, tantangan utama adalah bagaimana meminimalkan kemacetan yang mungkin terjadi akibat penyesuaian ruang jalan.

“Dampaknya tentu akan berpengaruh terhadap lalu lintas dan potensi kemacetan. Itu sudah kita antisipasi. Memang kemacetan kemungkinan terjadi, tetapi bagaimana caranya agar dari kondisi macet tersebut bisa dikurangi,” ujar Rasdian, Sabtu 31 Januari 2026.

Baca juga:Damkar Cimahi Lakukan Evakuasi Siswi Terjepit Meja Kelas

Sebagai langkah awal, Dishub akan menurunkan lebih banyak petugas di lapangan serta memperkuat koordinasi dengan kepolisian. Pengaturan lalu lintas akan difokuskan pada titik-titik rawan kepadatan, terutama di sepanjang jalur yang dilalui BRT.

Rasdian menjelaskan, keberadaan jalur on corridor BRT sepanjang 21 kilometer akan berdampak pada pola naik-turun penumpang. Nantinya, halte BRT akan ditempatkan dengan jarak sekitar 300 hingga 500 meter antarhalte.

“Jumlah halte on corridor sendiri lebih dari 30 titik. Ini tentu perlu pengaturan yang matang agar aktivitas naik-turun penumpang tidak mengganggu kelancaran lalu lintas,” jelasnya.

Untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, pada Februari 2026 Dishub Kota Bandung juga akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Forum Lalu Lintas. Forum tersebut akan membahas strategi penanganan dampak lalu lintas secara menyeluruh, mulai dari jangka pendek, jangka menengah, hingga jangka panjang.

“Pembangunan dan pengoperasian BRT ini dilakukan secara komprehensif dan terencana. Semua pihak akan dilibatkan agar implementasinya berjalan optimal,” tambah Rasdian.

Sementara itu, terkait operasional Trans Metro Bandung (TMB), Rasdian mengungkapkan terdapat enam koridor yang akan dihapus seiring hadirnya BRT. Dishub telah mengirimkan surat permohonan agar sopir dan armada yang terdampak dapat diakomodasi serta diselaraskan ke dalam sistem operasional BRT.

“Iya, termasuk itu. Selain enam koridor yang dihapus, masih ada sekitar lima koridor lain yang tetap beroperasi. Namun beberapa trayek akan disesuaikan,” ucapnya.

Penyesuaian trayek tersebut dilakukan karena jalur BRT bersifat khusus dan tidak boleh digunakan oleh kendaraan lain. Di sisi lain, kondisi jalan di Kota Bandung yang relatif sempit membuat penyempitan lajur menjadi hal yang tidak terhindarkan.

“Jalur BRT tidak boleh dipakai kendaraan lain. Sementara kondisi jalan di Bandung memang relatif sempit, sehingga penyempitan lajur tidak bisa dihindari,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....