Program Sirkular Terpadu Sampah, Pangan, dan Pencegahan Stunting

  • 09 Jan 2026 15:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung tengah mengembangkan program sirkular terpadu yang mengkolaborasikan pengelolaan sampah, ketahanan pangan, dan pencegahan stunting. Program ini melibatkan lintas perangkat daerah, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Dinas Kesehatan, hingga puskesmas dan posyandu, dan ditargetkan mulai dikembangkan secara optimal pada tahun 2026.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan bahwa secara faktual ketiga program tersebut sebenarnya sudah berjalan di lapangan. Namun, pelaksanaannya masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi secara menyeluruh.

“Di lapangan sekarang kan ketiga program itu sudah berjalan, tapi masih terpilah-pilah atau masih sektoral. Harapan pimpinan, Pak Wali Kota, bagaimana mengkolaborasikan program-program tersebut menjadi sebuah sirkular yang saling terhubung, mulai dari Dinas Kesehatan, puskesmas, sampai urusan gizi dan pangan,” ujar Gin Gin, Jumat 9 Januari 2026.

Ia menjelaskan, konsep sirkular ini akan mengintegrasikan Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan Sampah), Buruan Sae, serta Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsyat). Limbah atau sisa dari dapur sehat nantinya dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pengolahan sampah organik, yang kemudian diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk mendukung Buruan Sae.

Baca juga : Walikota: Lonjakan Wisatawan Sisakan Masalah Kemacetan, Parkir dan Sampah

“Dari dapur nanti akan ada waste atau sisa, dan itu bisa dimanfaatkan lagi ke Kang Pisman. Jadi benar-benar terjadi sirkuler. Ini akan menjadi sebuah program baru yang kita kembangkan di Kota Bandung pada tahun 2026,” katanya.

Gin Gin mengutarakan, meski setiap program berada di bawah perangkat daerah yang berbeda Kang Pisman oleh DLH, Buruan Sae oleh DKPP, dan Dapur Dahsyat oleh Tim Penggerak PKK namun implementasinya akan melibatkan banyak pihak. Selain Dinas Kesehatan dan puskesmas, program ini juga melibatkan posyandu, Dinas Sosial, serta Dinas Pendidikan.

“Kalau ini bisa berjalan, maka akan menjadi sirkular program yang ideal. Sampah bisa tertangani bahkan termanfaatkan, ketahanan pangan terbangun, dan kebutuhan pangan untuk keluarga berisiko stunting bisa terpenuhi. Intinya sampah tertangani, pangan tersedia,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan bahwa program sirkular tersebut sebenarnya sudah mulai berjalan secara tidak resmi di sejumlah wilayah. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala, khususnya belum meratanya keberadaan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsyat).

“Program sirkular ini sebenarnya sudah berjalan, hanya memang problemnya belum semua RW memiliki Dapur Sehat Atasi Stunting. Karena itu sekarang kita pastikan minimal di setiap kelurahan ada satu Dahsyat,” katanya.

Ia menambahkan, untuk program Buruan Sae dan pengolahan sampah, rata-rata sudah tersedia di hampir setiap kelurahan. Tantangan utama justru terdapat di kelurahan yang memiliki keterbatasan lahan untuk pengolahan sampah.

“Nah, yang menjadi perhatian khusus adalah kelurahan-kelurahan yang memang kesulitan lahan. Ini nanti akan ada perlakuan khusus, ada penanganan tersendiri bagi kelurahan yang keterbatasan lahannya,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....