Pemkot Cimahi Gencarkan Gerakan Stop Boros Pangan

  • 30 Des 2025 22:41 WIB
  •  Bandung

KBRN, Cimahi: Pemerintah Kota Cimahi terus memperkuat upaya pengurangan pemborosan pangan melalui Gerakan Selamatkan Pangan atau Stop Boros Pangan. Langkah ini dinilai penting mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar masyarakat, sementara tingkat food waste di Indonesia masih tergolong tinggi.

Dikutip dari laman resmi pemerintah kota Cimahi, Selasa (30/12/2025). Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Tita Mariam, menyampaikan bahwa pemborosan pangan tidak hanya terjadi di sektor industri, tetapi juga masih banyak ditemukan di tingkat rumah tangga.

Berdasarkan data nasional, jutaan ton pangan terbuang setiap tahun meski masih layak dikonsumsi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah pusat hingga daerah untuk mengambil langkah serius.

Gerakan Selamatkan Pangan di Cimahi diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Surat Edaran Gubernur Jawa Barat terkait pencegahan food waste, serta Surat Edaran Wali Kota Cimahi Nomor 11 Tahun 2025.

“Gerakan ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola pangan, mengurangi pemborosan, serta menjaga ketahanan pangan daerah,” ujar Tita.

Baca juga : Damkar Cimahi Perkuat Siaga Jelang Tahun Baru 2026

Menurutnya, sosialisasi tidak hanya berfokus pada ajakan menghemat makanan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai dampak pemborosan pangan terhadap lingkungan, ekonomi, dan kondisi gizi masyarakat.

Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah kerawanan pangan, menekan angka stunting, serta mendukung penerapan ekonomi sirkular dan pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Cimahi, Maria Fitriana, menilai pemborosan pangan kerap berawal dari perilaku masyarakat yang mengambil makanan secara berlebihan. Kebiasaan tersebut, kata dia, sering dijumpai dalam berbagai acara resmi maupun hajatan, yang berujung pada banyaknya makanan terbuang.

Maria menegaskan bahwa makanan yang masih layak konsumsi seharusnya tidak berakhir di tempat sampah, terutama di tengah kenyataan masih adanya warga yang membutuhkan pangan.

Ia mengungkapkan, volume food waste di Cimahi mencapai sekitar 23 hingga 48 ton per tahun, kondisi yang dinilai sangat memprihatinkan. “Angka tersebut menunjukkan ironi, karena di sisi lain masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan,” ucap Maria.

Untuk itu, Gerakan Selamatkan Pangan di Kota Cimahi akan dijalankan melalui dua pendekatan utama, yakni pencegahan dan penyelamatan pangan. Pencegahan dilakukan melalui edukasi dan kampanye kepada aparatur sipil negara (ASN), pelaku usaha, sekolah, hingga rumah tangga agar mengonsumsi dan membeli makanan sesuai kebutuhan.

Maria menekankan bahwa gerakan ini harus menjadi komitmen bersama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak masyarakat membiasakan diri makan secukupnya serta membawa pulang makanan yang belum habis.

“Stop boros pangan bukan sekadar slogan. Jika dilakukan secara konsisten, kita bisa menekan pemborosan dan memastikan pangan dimanfaatkan secara adil dan berkelanjutan di Kota Cimahi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....