Gerakan Pangan Murah untuk Tekan Lonjakan Harga
- 12 Des 2025 14:14 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung; Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Kota Bandung kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah antisipasi untuk menekan potensi lonjakan harga berbagai komoditas pangan. Program ini digelar bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional, ID Food, Bulog, serta sejumlah distributor.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Ahmad Wahyudin, menjelaskan bahwa GPM diadakan dengan menyediakan sejumlah komoditas strategis yang belakangan ini mengalami fluktuasi harga di pasaran.
“Gerakan pangan murah kita laksanakan bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional, ID Food, dan para distributor. GPM hari ini kita laksanakan di area Kantor DKPP,” ujar Ahmad, Jumat (12/12/2025).
Dalam pelaksanaan GPM tersebut, pemerintah menyediakan berbagai bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau daripada harga pasar. Komoditas utama seperti beras SPHP dari Bulog dijual seharga Rp60.000 per lima kilogram, dengan kuota mencapai satu ton.
Baca juga : Kolam Retensi di Rancasari dan Cibodas Hampir Rampung
Selain beras, tersedia juga telur ayam dengan kuota 500 kilogram, serta komoditas lainnya seperti bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula, dan cabai merah beberapa di antaranya tengah mengalami kenaikan harga di pasaran.
Ahmad memastikan seluruh harga yang dijual dalam GPM lebih murah dibanding harga pasar. “Harga GPM memang harus lebih murah dari pasaran. Misalnya telur, di sini kita jual Rp27.000 per kilogram, sementara di warung-warung hari ini harganya Rp30.000 sampai Rp32.000,” katanya.
Untuk komoditas daging ayam, harga dalam GPM dipatok Rp36.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar yang berkisar di angka Rp38.000.
Terkait pasokan komoditas pangan, Ahmad menjelaskan bahwa Kota Bandung masih mengandalkan pasokan dari berbagai daerah di Jawa Barat dan luar provinsi. Komoditas beras sebagian besar didatangkan dari Cianjur, Indramayu, Subang, Garut, dan Tasikmalaya, serta beberapa daerah dari Jawa Tengah. Sementara untuk telur ayam, pasokan terbesar masih berasal dari Blitar, Jawa Timur.
“Untuk telur, kita masih mengandalkan dari Blitar yang produksinya paling banyak. Kalau yang terdekat ada dari Majalaya, tapi tonasenya jauh lebih kecil,” ungkapnya.
Menjelang libur akhir tahun, DKPP masih mempertimbangkan pelaksanaan GPM lanjutan. Keputusan akan disesuaikan dengan perkembangan harga dan kebutuhan masyarakat.
“Untuk menyambut Nataru, kita akan melihat tren harga dan permintaan masyarakat. Kita sudah menyiapkan satu kali lagi kegiatan GPM, tetapi pelaksanaannya menunggu kondisi di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dinamika harga di setiap pasar di Kota Bandung tidak selalu sama. Karena itu, penentuan lokasi dan waktu GPM berikutnya masih menunggu arahan pimpinan.
“Di Kota Bandung ini setiap pasar kadang-kadang harganya berbeda. Kita akan pastikan dulu arahan pimpinan, termasuk lokasi dan waktu pelaksanaannya,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....