Kuda Renggong, Sejarah hingga Nilai Budaya
- 27 Jun 2026 16:42 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Dari sekian banyak jenis kesenian yang ada di Jawa Barat, Kuda Renggong adalah jenis kesenian yang masih ada dan diminati oleh Masyarakat. Kesenian yang menampilkan keindahan Kuda yang menari diiringi musik, ditunggangi oleh anak Sunat dan diarak keliling kampung.
Dikutip dari laman perpustakaan Digital Budaya Indonesia tentang “Kuda Renggong (Kesenian Tradisional Masyarakat Sunda)” menjelaskan bahwa Kuda Renggong adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 1-4 ekor kuda yang dapat menari mengikuti irama musik. Di atas kuda-kuda tersebut biasanya duduk seorang anak yang baru saja dikhitan atau seorang tokoh masyarakat.
Kata renggong adalah metatesis dari ronggeng yang artinya gerakan tari berirama dengan ayunan (langkah kaki) yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher. Kesenian kuda renggong atau yang dahulu biasa disebut kuda igel karena bisa ngigel (menari) ini konon tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang.
Peralatan yang digunakan dalam permainan kuda renggong adalah satu sampai empat ekor kuda yang sudah terlatih beserta perlengkapannya. Perlengkapan yang terdiri dari Sela (tempat atau alat untuk duduk penunggang kuda), Seser (pembalut kepala kuda), Sanggawedi (pijakan kaki bagi penunggang).
Selain itu ada juga Apis buntut (tali penahan sela yang dihubungkan dengan pangkal ekor kuda), Eles (tali kemudi kuda), Kadali (besi yang dipasang pada mulut kuda untuk mengikatkan tali kendali). Peralatan lainnya adalah Ebeg (hiasan sela), Sebrak (lapisan di bawah sela agar punggung kuda tidak luka/lecet), dan Andong (sabuk yang diikatkan ke bagian perut kuda sebagai penguat sela agar tidak mudah lepas dari punggung kuda).
Alat musik yang menjadi pengiringnya adalah seperangkat waditra yang terdiri dari dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak), sebuah terompet, dua ancak ketuk (bonang), sebuah bajidor, dua buah gong (besar dan kecil), satu set kecrek, genjring, dan terbang atau dulang. Busana pemain kuda renggong yang digunakan dibagi menjadi dua bagian, yaitu busana juru pengrawit (wiyaga) dan busana pemain silat (pengatik).
Busana juru pengrawit terdiri dari baju seragam biru lengan panjang dan berstrip putih, celana panjang, tutup kepala iket loher, dan sandal. Sedangkan busana pemain silat terdiri dari celana pangsi berwarna hitam, tutup kepala iket loher, dan ikat pinggang kain berwarna merah.
lagu-lagu yang dimainkan oleh para wiyaga untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Jaipong dan Ketuk Tilu. Pertunjukan kuda renggong ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula.
Nilai Budaya Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika, termasuk kesenian tradisional kuda renggong yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Cikurubuk, Kabupaten Sumedang. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam kuda renggong tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya.
Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerjasama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya.
Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....