Makanan Sehat Bergizi Mahal? Tips Bijak Belanja Ditengah Tekanan Ekonomi

  • 29 Agt 2026 12:44 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan daya beli, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak keluarga perlu menyusun ulang prioritas konsumsi sehari-hari. Untuk menginspirasi orang tua bagaimana mengambil keputusan konsumsi yang lebih bijak di tengah keterbatasan anggaran,

Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia menyelenggarakan media talk bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta pada Rabu 26 Agustus 2026.

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana mengungkapkan, tekanan ekonomi adalah nyata dan terukur. Tingkat pendapatan masyarakat dibagi menjadi 5, dengan kuintil 1 yang paling rendah dan kuintil 5 yang paling tinggi.

“Makin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan,” terangnya. Pada kuintil 1, pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan, sedangkan pada kuintil 5 yaitu 40,5 persen,"ucapnya dalam rilis Sabtu 29 Agustus 2026.

Bisa dibayangkan bila terjadi peningkatan harga pangan maupun biaya hidup lainnya. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Sosial (SUSENAS) 2024 dan 2025 oleh BPS, tampak bahwa telah terjadi perubahan pola belanja.

Terdapat tambahan 5,98 persen belanja bukan makanan; tambahan belanja makanan hanya 3,16 persen. “Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja non makanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” tutur Dewa.

Ia menambahkan, pola belanja pangan pun berubah cukup drastis. “Alokasi belanja makanan jadi atau beli di luar, meningkat cukup tajam; kita lebih sering jajan. Yang juga meningkat yaitu rokok dan tembakau, setara dengan bahan pangan padi-padian,” ujar Dewa.

Selain itu menurutnya, ketika anggaran tertekan, yang pertama dikorbankan bukan jumlah kalori, melainkan mutu gizinya. Beras tetap dibeli, tapi lauknya menyusut.

Alokasi belanja protein seperti ikan/udang/cumi, telur dan susu, serta daging, jadi makin kecil. “Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” imbuhnya.

Protein hewani kerap dipandang sebagai bahan pangan yang mahal. Menurut Dewa, pandangan ini dipengaruhi oleh bias harga dari daging sapi.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu. ini masih kurang optimal dikonsumsi, dan sebetulnya bisa dikonsumsi lebih banyak,” papar Dewa.

Ia melanjutkan, telur dan ikan bisa menjadi back bone untuk protein hewani keluarga sehari-hari. “Susu juga bisa dikonsumsi untuk menambah mutu gizi makanan,” imbuhnya.

Ia juga menyebutkan, dampaknya bila mengorbankan asupan gizi keluarga, terutama anak-anak, lantaran tekanan ekonomi. “Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” tegas Dewa.

Ia menegaskan, generasi berikutnya akan sangat terdampak bila kesenjangan asupan gizi terus terjadi, di mana gizi yang baik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Potensi penyakit yang muncul di masa mendatang pun besar, dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Pada kesempatan yang sama, Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengatakan, pemenuhan gizi dapat optimal, meski budget minim. “Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu misalnya ikan salmon,” ungkapnya.

Menurut Tara, rerata penduduk Indonesia sudah mencukupi kebutuhan kalori sehari-hari. “Namun, masih didominasi oleh karbohidrat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut bukan berarti hal ini salah. Faktanya memang, karbohidrat menempati porsi 50-60 persen dari asupan pangan harian.

"Yang perlu divariasikan adalah sumber karbohidratnya. Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren, beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus,” ujar Tara.

Ia menyoroti soal konsumsi protein masyarakat Indonesia. Masyarakat mempunyai sumber protein nabati yang sangat baik yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis.

"Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap,” ujar Tara. Terlebih untuk anak-anak, karena protein hewani mengandung asam lemak esensial lengkap, yang sangat dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Mirisnya menurut dia, hanya 43 persen balita usia 6 – 23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet (MPASI bergizi beragam, terutama telur dan daging). Tara juga mengingatkan bahwa ikan dan telur bisa menjadi salah satu pilihan protein yang lebih ekonomis dibandingkan daging.

“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelas Tara. Adapun susu bisa menjadi pelengkap gizi karena mengandung begitu banyak zat gizi dalam tiap porsinya.

“Susu memiliki skor DIAAS tertinggi dalam protein hewani,” jelasnya. DIAAS (Digestible Indispensable Amino Acid Score) adalah metode pengukuran kualitas protein berdasarkan seberapa baik asam amino esensial dapat dicerna dan diserap oleh tubuh.

Makin tinggi skornya, makin baik penyerapan nutrisinya di dalam tubuh. Susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.

Tara mengingatkan untuk berpedoman pada Tumpeng Gizi dan Isi Piringku dalam menyusun menu makan keluarga. Yaitu 2/3 piring terdiri dari karbohidrat, 2/3 sayur, 1/6 diisi oleh sumber protein, dan 1/6 lagi buah. Tentu, ada tantangan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang.

“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tandasnya.

Ia melanjutkan, jangan merasa bersalah bila sesekali belanja makanan di luar, atau membeli processed food yang tinggal digoreng.

“Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” ucap Tara.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro mengatakan bahwa di tengah situasi ekonomi saat ini, masyarakat perlu terus mengevaluasi kembali prioritas pengeluarannya, termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.

“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujarnya.

Melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia berkomitmen penuh untuk mendampingi seluruh keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan mereka khususnya masa-masa penuh tantangan ini. “Kami berupaya mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik, yaitu asupan susu kaya gizi sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat,” ucap Andrew.

Tidak hanya menghadirkan produk kaya gizi dan berkualitas, Frisian Flag Indonesia juga konsisten memberikan edukasi kesehatan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi susu sejak dini dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya. Misalnya dengan menghadirkan para pakar dalam diskusi hari ini, agar literasi mengenai nutrisi semakin baik dan keluarga Indonesia dapat semakin bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang baik bagi mereka,” pungkas Andrew.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....