Penguatan SDM Penyandang Disabilitas Untuk Kesetaraan
- 25 Jan 2026 08:28 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua: Menciptakan kesetaraan difabel dan peningkatan kualitas SDM untuk pendidikan, advokasi, dan pemberdayaan berbasis masyarakat. Menjadi Visi Misi Yayasan Pijar Timur Indonesia (YPTI) dari Kab. TTU-NTT melalui pendekatan pemberdayaan dan inklusif.
Hal tersebut diutarakan Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia Vinsensius Kia Beda,SH, kepada rri.co.id, Sabtu 24 Januari 2026. Menurutnya kunci untuk penyetaraan kaum difabel, salah satunya dengan peningkatan kualitas pendidikan dari tingkat usia dini hingga pendidikan tinggi.
| Baca juga: Silaipui Alor menuju Desa Sehat |
"SDM berkualitas bukan hanya mereka yang memiliki keahlian teknis, tetapi juga memiliki perspektif inklusif. Kami percaya bahwa perubahan dimulai dari pola pikir karena SDM yang memahami hak asasi manusia akan melihat penyandang disabilitas sebagai subjek yang berdaya, bukan objek belas kasihan" katanya tegas.
Dalam implementasinya Yayasan ini terus mendorong pemerintah untuk memberikan keberpihakan, termasuk rekomendasi pembentukan Komite Daerah Penyandang Disabilitas sebagai wadah koordinasi, advokasi, dan pengawasan pemenuhan hak-hak disabilitas
| Baca juga: Inovasi Kesehatan Desa di Alor |
"Karena pemerintah punya kekuatan untuk mewujudkan itu, dan kami aktif mendukung pemenuhan hak difabel dengan berikan pelatihan dan pengembangan ekonomi. Mulai dari tingkat lokal, kami dorong penyandang disabilitas untuk memiliki usaha mandiri," ucapnya.
Hal ini bertujuan mengubah paradigma dari penerima bantuan menjadi subjek yang produktif dan berdaya, sehingga dalam penguatan kapasitas dan hak difabel. Yayasan Pijar Timur meminta pemerintah libatkan difabel dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan agar inklusif.
Menurut Vinsensius, Yayasan Pijar Timur Indonesia hadir di NTT untuk membangun SDM berkualitas bagi penyandang disabilitas dengan membekali mereka berupa keterampilan. Memberdayakan ekonomi, dan mengadvokasi hak-hak mereka, sehingga mereka dapat berpartisipasi setara dalam pembangunan.
"Kendala terbesar adalah stigma dan sikap dari pemberi kerja atau masyarakat umum masih meragukan produktivitas disabilitas. Selain itu, akses pendidikan formal yang berkualitas bagi disabilitas sendiri perlu ditingkatkan agar mereka memiliki daya saing yang setara," tuturnya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....