Hingga 2026 Puskot Atambua Catat 63 Kasus TBC

  • 24 Jan 2026 16:26 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua — Puskesmas Kota (Puskot) Atambua mencatat sebanyak 63 kasus penderita Tuberkulosis (TBC) sejak tahun 2024 hingga awal Januari 2026. Data tersebut mencakup pasien yang masih menjalani pengobatan hingga yang telah dinyatakan sembuh, Informasi dari dr. Yeni Tasa, M.Kes, Kepala Puskesmas Kota Atambua, Jumat 24 Januari 2026.

Menurutnya dari total tersebut, sebanyak 25 orang masih dalam masa pengobatan, sementara sisanya telah menyelesaikan terapi dan kembali beraktivitas normal. “Secara keseluruhan yang sementara kami data itu ada 63 orang, dan yang masih minum obat ada 25 orang,” ujarnya dalam program Indonesia Sehat RRI Atambua.

Lanjut dr. Yeni, penderita TBC tersebut tersebar di sejumlah kelurahan dalam wilayah kerja Puskesmas Kota Atambua, yakni Kelurahan Tenukiik, Kelurahan Kota Atambua, dan Kelurahan Fatubenao. Ia menegaskan, seluruh pasien tetap berada dalam pemantauan tenaga kesehatan untuk memastikan pengobatan dijalani secara tuntas.

Terkait pemeriksaan TBC, Puskot Atambua belum memiliki alat pemeriksaan mandiri karena pengadaannya merupakan kewenangan Kementerian Kesehatan. “Kemungkinan karena jarak Pusko cukup dekat dengan RSUD sehingga kami belum menjadi prioritas,” katanya, seraya berharap alat pemeriksaan tersebut dapat tersedia di tahun mendatang.

Ia menambahkan, proses pemeriksaan dahak pasien TBC yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Atambua rata-rata membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga minggu, menyesuaikan dengan kepadatan layanan laboratorium. Meski demikian, pasien tetap mendapatkan penanganan awal sambil menunggu hasil pemeriksaan.

“Bukan berarti setelah ambil dahak lalu kami biarkan, batuknya tetap kami tangani,” ujarnya. Dr. Yeni juga menyoroti stigma dan kesalahpahaman masyarakat sebagai tantangan utama dalam penanganan TBC, terutama terkait kepatuhan minum obat selama enam bulan.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa TBC kerap berkaitan dengan penyakit lain seperti diabetes dan HIV, yang dapat memperberat kondisi pasien. “Penyakit TBC ini senang dengan gula, sehingga pada pasien diabetes pengobatannya sering lebih berat,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, dr. Yeni mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala TBC dan tidak menunda pemeriksaan. “Kalau ada batuk, penurunan berat badan, keringat malam, dan demam yang tidak sembuh-sembuh, segera periksa, Semakin cepat diobati, semakin kecil risiko komplikasi,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....