Belajar di Seminari Tidak Kaku dan Tetap Adaptif
- 27 Apr 2026 14:03 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Anggapan bahwa belajar di seminari itu sangat kaku, kuno, dan bergaya lama ternyata tidak sepenuhnya benar dalam praktik pendidikan saat ini. Informasi disampaikan Romo Drs. Hironimus Masu,Pr.,S.Pd Praeses Seminari Menengah Lalian Belu-NTT kepada rri.co.id, Senin 27 April 2026, terkait pola pembinaan dan perkembangan teknologi di lingkungan seminari.
Ia menegaskan bahwa meskipun terdapat aturan ketat, seminari tetap memberikan akses teknologi modern seperti internet, komputer, dan fasilitas laboratorium, bahkan diberikan kesempatan ikut program Sayembara seperti Nyala Kreatif 2026 bagi para siswa.
“Betul, tetapi kita tidak mengizinkan anak-anak untuk membawa handphone ke sini,” ujarnya, sambil menjelaskan bahwa laptop tetap diperbolehkan untuk menunjang pembelajaran mereka.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan berarti membatasi perkembangan teknologi siswa, melainkan mengarahkan penggunaan teknologi secara lebih terkontrol dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan. “Kita izinkan membawa laptop dan menggunakan laboratorium, bahkan kita pasang wifi di seluruh lingkungan sekolah dan asrama."
Ia menambahkan bahwa jaringan internet membantu siswa mengenal dunia luar, sehingga mereka tidak hanya terpaku pada lingkungan seminari, tetapi juga memahami perkembangan global. “Supaya mereka tidak gap teknologi, mereka bisa masuk ke laboratorium atau jaringan wifi ketika membutuhkan tugas atau literasi,” katanya.
Terkait larangan penggunaan handphone, Romo Hironimus menyebut bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara dan tidak berdampak besar terhadap kehidupan siswa secara keseluruhan. “Tidak juga akan meruntuhkan dunia mereka saat tidak punya HP, sebetulnya tidak juga,” tuturnya, menanggapi anggapan kekhawatiran terhadap pembatasan tersebut.
Dalam proses pembinaan generasi muda seperti Gen Z di seminari, pendekatan disiplin tetap diterapkan untuk membentuk karakter dan tanggung jawab siswa sejak dini. Ia mencontohkan bahwa penggunaan handphone yang terlalu bebas dapat berdampak negatif, sehingga seminari memilih aturan tegas demi menjaga fokus pembinaan.
Romo Hironimus menegaskan bahwa pilihan untuk masuk seminari berarti siap mengikuti seluruh ketentuan, termasuk tidak membawa handphone selama masa pendidikan berlangsung. “Kalau ada yang kedapatan, kita pulangkan ke orang tua,” ujarnya, menjelaskan sanksi tegas bagi siswa yang melanggar aturan tersebut.
“Kalau kau mau sekolah di sini berarti HP tidak dibawa, itu ketentuan dari seminari,” katanya menegaskan komitmen lembaga dalam menjaga disiplin dan karakter siswa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....