Tidak Semua Peserta Didik Seminari Otomatis Jadi Imam
- 27 Apr 2026 13:04 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Tidak semua peserta didik di Seminari Menengah otomatis menjadi imam Katolik, karena panggilan hidup setiap individu berbeda sesuai kehendak Tuhan.
Kepada rri.co.id, Senin 27 April 2026, Romo Drs. Hironimus Masu,Pr.,S.Pd Praeses Seminari Menengah SMA Swasta Lalian Keuskupan Atambua menegaskan lembaga hanya menanamkan, membentuk, serta membina para siswa sebagai calon imam sesuai proses yang berjalan.
“Mereka tidak secara otomatis menjadi imam, karena hal ini sesuai dengan panggilan hidup yang Tuhan tetapkan,” tuturnya. Ia menyebutkan bahwa dari ratusan peserta didik yang memulai pendidikan awal, hanya belasan orang yang akhirnya ditahbiskan menjadi imam Katolik.
Menurut Romo Hironimus Masu, angkatan ke-29 terbanyak menghasilkan imam, yakni sebanyak 19 orang, termasuk Yang Mulia Bapak Uskup saat ini. “Tercatat dalam sejarah Seminari Menengah Lalian yang kini berusia lebih dari 75 tahun, jumlah yang jadi imam itu terbatas.”
“Bahkan ada satu angkatan yang tidak ada yang jadi imam sama sekali dan mereka kembali ke masyarakat sebagai awam,” ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembinaan di seminari tetap memberikan dampak positif terhadap karakter alumni dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam.
“Disiplin dan tanggung jawab yang dibangun di sini berdampak ketika mereka hidup di tengah masyarakat berbeda agama dan budaya,” katanya. Ia juga menjelaskan proses seleksi masuk meliputi empat mata pelajaran utama serta tes IQ yang harus dilalui seluruh calon peserta didik.
“Kita seleksi Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, serta tes IQ, dan semua harus tembus,” tegasnya. Selain itu, pihak pembina juga melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui latar belakang keluarga serta motivasi calon peserta didik sebelum masuk seminari.
Kita bisa tahu apakah anak ini mau sendiri atau karena dorongan orang tua, dan biasanya yang dipaksa tidak bertahan,” ujarnya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa adanya kelas peralihan bertujuan sebagai tahap penyesuaian bagi peserta didik terhadap pola hidup disiplin di seminari.
“Kelas peralihan ini bertujuan semacam tahap persiapan agar mereka terbiasa dengan ritme hidup yang diatur oleh lonceng setiap hari,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa pembentukan kebiasaan sejak awal menjadi kunci agar peserta didik mampu menjalani kehidupan seminari secara konsisten dan bertanggung jawab. “Habit itu dibangun dari hal-hal kecil supaya mereka siap melanjutkan ke jenjang berikutnya,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....