Wisma Raya II dan Aladin 2026, Cerita Baru Pariwisata Alor

  • 16 Sep 2026 14:45 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Gemerlap Pekan Wisma Raya II dan Festival Aladin Kabupaten Alor Tahun 2026 akhirnya sampai pada penghujungnya. Setelah berlangsung sejak 9 September 2026, rangkaian kegiatan resmi ditutup di Lapangan Mini Kalabahi, meninggalkan catatan tentang besarnya potensi pariwisata, budaya, UMKM, dan ekonomi kreatif masyarakat Alor.

Penutupan bukan sekadar tanda berakhirnya sebuah perhelatan. Bagi Pemerintah Kabupaten Alor dan DPRD, kegiatan ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk membawa pariwisata daerah ke tahap berikutnya. Antusiasme masyarakat dan wisatawan menunjukkan bahwa kegiatan berbasis potensi lokal dapat menjadi ruang pertemuan antara budaya, ekonomi, dan promosi daerah.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Alor, Marthen G. Maubeka, mengatakan Pekan Wisma Raya II menjadi bagian dari upaya menghidupkan pariwisata daerah dengan mengoptimalkan potensi Tri Palawa, yakni pertanian, perikanan, dan pariwisata. Menurutnya, keterpaduan ketiga sektor tersebut perlu terus diperkuat agar manfaat pariwisata dapat dirasakan masyarakat.

“Pekan Wisma Raya II ini telah membuktikan komitmen bersama kita dalam menghidupkan pariwisata Alor sesuai dengan tema ‘Wisata Maju, Rakyat Sejahtera’. Pergelaran ini bukan sekadar panggung hiburan, tetapi merupakan ruang kolaborasi nyata untuk mengoptimalkan seluruh potensi Tri Palawa yang menjadi tiang penyangga utama ekonomi Bumi Nusa Kenari,” ujar Marthen.

Besarnya perhatian terhadap kegiatan tersebut tercermin dari jumlah pengunjung. Berdasarkan laporan panitia, selama lima malam pelaksanaan tercatat sekitar 25.000 hingga 35.000 pengunjung, yang terdiri atas masyarakat lokal dari 18 kecamatan, wisatawan domestik, hingga wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati berbagai atraksi, termasuk fenomena air laut dingin atau Aladin.

Aktivitas tersebut juga memberikan dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah mengestimasikan akumulasi perputaran uang dari UMKM, kuliner, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya mencapai lebih dari Rp1,6 miliar. Aktivitas ekonomi tercatat berlangsung di sejumlah lokasi, termasuk Desa Vita, kawasan Kota Kalabahi, dan Pasar Tradisional Alor Kecil.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Alor, Usman Plaikari, menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan daerah sekaligus membuka peluang ekonomi. Menurutnya, kekayaan laut, budaya, tradisi, dan kreativitas masyarakat harus dikelola agar memberikan manfaat yang lebih luas.

“Pekan Wisma Raya II dan Festival Aladin bukan sekadar kegiatan hiburan. Ini adalah panggung besar untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Kabupaten Alor memiliki kekayaan alam, budaya, kreativitas, dan potensi ekonomi yang luar biasa. Kekayaan tersebut harus kita kelola bukan hanya sebagai sesuatu yang kita banggakan, tetapi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Alor,” kata Usman.

Usman mengatakan DPRD Kabupaten Alor berkomitmen mendukung pembangunan pariwisata melalui kebijakan anggaran dan regulasi. Ia mendorong agar dukungan anggaran sektor pariwisata pada 2027 diperkuat sehingga penyelenggaraan Wisma Raya III dapat dikembangkan dengan jangkauan yang lebih luas, termasuk peluang untuk menghadirkan pemerintah pusat dan memperkenalkan Alor dalam kalender pariwisata nasional.

Namun, peningkatan kunjungan wisata juga dinilai harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Laut Alor tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi merupakan sumber kehidupan masyarakat, mulai dari mata pencaharian hingga kehidupan sosial dan budaya. Karena itu, pengembangan pariwisata bahari perlu disertai komitmen menjaga kebersihan laut, terumbu karang, dan ekosistem pesisir.

“Di balik sebuah produk UMKM ada tangan-tangan masyarakat Alor yang bekerja. Ada ibu-ibu yang berusaha membantu ekonomi keluarga, anak-anak muda yang mencoba menciptakan lapangan pekerjaan, nelayan, petani, pengrajin, pedagang, dan pelaku usaha yang menggantungkan harapan pada usaha mereka. Karena itu, mari kita cintai, beli, dan promosikan produk masyarakat kita sendiri,” ujar Usman.

Pemerintah Kabupaten Alor selanjutnya menyiapkan sejumlah agenda lanjutan, termasuk penyusunan kalender kegiatan pariwisata 2027, sinkronisasi anggaran lintas sektor untuk mendukung Tri Palawa, serta penguatan hilirisasi produk pertanian dan perikanan. Sementara itu, masyarakat didorong untuk terus mengembangkan produk lokal seperti tenun ikat, kerajinan, kopi, hasil laut, kuliner, serta berbagai karya ekonomi kreatif.

Penutupan Wisma Raya II dan Festival Aladin 2026 akhirnya bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan titik evaluasi untuk membangun agenda pariwisata yang lebih berkelanjutan. Dengan kolaborasi pemerintah, DPRD, perguruan tinggi, pelaku usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, potensi Alor diharapkan dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas budaya dan kelestarian alamnya. Dari sebuah festival, Alor sedang membangun cerita tentang bagaimana kekayaan alam dan kreativitas masyarakat dapat menjadi bagian dari masa depan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....