Langkah Strategis Ditempuh Pemkab TTU-Timor Leste Membuka Pasar Perbatasan Napan

  • 17 Agt 2026 05:34 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Kefamenanu - Salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara untuk menggerakkan ekonomi perbatasan, maka Pemkab TTU bersinergi dengan Pemerintah Timor Leste khususnya Distrik Oecuse membuka pasar perbatasan di PLBN Napan pada Jumat 14 Agustus 2026. Pasar perbatasan ini akan berjalan seterusnya pada tiap Jumat.

‎Pasar Perbatasan Napan berlangsung di PLBN Napan Kecamatan Bikomi Utara yang diharapkan menjadi pintu gerbang ekonomi TTU-Oecusse. Karena melibatkan pelaku UMKM sebanyak 66 kelompok yang bergerak baik itu kuliner, kain tenun, bahan Sembako, maupun ternak ayam dan melibatkan pelaku UMKM dari Distrik Oecuse. Tujuan pembukaan pasar Perbatasan di PLBN Napan adalah untuk memudahkan masyarakat TTU. Supaya masyarakat berjualan hasil tani seperti kopi, hasil olahan pangan lokal, kuliner khas TTU, kerajinan tangan seperti tenunan.

‎Bupati TTU, Yosep Falentinus Dellasale Kebo dalam sambutannya mengatakan bahwa, pasar perbatasan harus ditempatkan dalam perspektif paling besar. Pasar perbatasan di PLBN Napan bukan sekedar tempat bertemunya para penjual dan pembeli, tetapi harus menjadi simpul pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan sekaligus etalase produk unggulan Kabupaten TTU sebagai beranda terdepan negara Indonesia", kata mantan TNI ini.

‎Bupati Falent menekankan supaya pelaku UMKM yang berjualan di pasar perbatasan Napan harus menampilkan produk yang berkualitas dan mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Dalam konteks ini UMKM TTU memiliki posisi yang sangat strategis, karena mereka bukan hanya pelaku ekonomi melainkan kekuatan ekonomi perbatasan. Bahkan sebagai wajah masyarakat, pembawa identitas budaya dan instrumen penting untuk memastikan aktivitas ekonomi di perbatasan yang tentunya membawa manfaat besar bagi masyarakat TTU", kata Pendiri Ormas Beta Timor ini.

‎"TTU dalam konteks Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dalam kain tenun hasil karya turun-temurun dengan motif yang penuh filosofi. Selain itu, ada kuliner khas Timor, Kopi dan hasil pertanian lokal, fashion hasil perpaduan kain tenun serta berbagai produk kreatif lainnya. Semua ini merupakan modal ekonomi sekaligus modal budaya yang harus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah", kata Bupati Falent.

‎Dikatakan Bupati Falent bahwa, pasar Perbatasan Napan ini membuka peluang mempertahankan UMKM dengan pembeli lokal maupun lintas batas. Karena itu, para pelaku usaha harus menjadikan momentum ini supaya membawa UMKM TTU naik level. Pelaku usaha harus memperhatikan kualitas produk, kemasan, pelayanan, manegemen, legalitas, standarisasi, jangkauan pasar dan harus berani menjangkau pasar internasional", ujar mantan BAIS TNI ini.

‎"Pelaku UMKM di TTU tidak boleh hanya berpikir bagaimana produk yang dijual laku di pasaran, tetapi perlu menjaga kualitas sehingga pembeli terus mencari produk yang dihasilkan. Karena itu, kualitas bahan baku harus dijaga, desain, kemasan, branding, sertifikasi, pemasaran digital dan pelayanan konsumen. Sebab pasar yang lebih luas akan menilai produk dari segi kualitas, keunikan, konsistensi dan kemampuan memenuhi permintaan", ujarnya.

‎Bupati Falent kembali menekankan supaya suatu saat nanti, orang datang ke PLBN Napan, bukan hanya untuk sekedar melintasi batas negara, tetapi juga mencari produk UMKM yang dihasilkan di TTU. Produk kreatif seperti tenunan, kuliner khas dan makanan olahan pangan lokal. Jika semua ini terwujud maka Pemkab dan masyarakat TTU telah membangun sistem ekonomi baru di kawasan perbatasan.

‎Sementara Sintus Punef, salah satu warga Oesilo (Distrik Oecuse) yang memiliki dari Desa Napan mengatakan dengan dibukanya pasar perbatasan perbatasan Napan sangat strategis dan menguntungkan. Dengan kehadiran pasar perbatasan di PLBN Napan maka mereka warga Oesilo bisa mengakses barang murah.

‎"Terutama kebutuhan pokok seperti sembako, minyak goreng, ikan, telur atau produk lainnya karena hasil pertanian TTU atau Indonesia harganya jauh lebih murah dan dekat. Sehingga masyarakat Oecuse khususnya di kawasan perbatasan tidak perlu jauh-jauh ke Pantai Makasar (Oecuse ) tetapi masyarakat cukup ke PLBN Napan, dengan jarak tempuh 1-2 jam maka masyarakat bisa membeli apa yang mereka butuhkan", kata Sintus.

‎Sintus menambahkan bahwa selain berbelanja, Pasar Perbatasan di PLBN Napan semakin memperkuat hubungan sosial antara kedua negara. Karena warga perbatasan baik di Napan ataupun dari Distrik Oecuse masih memiliki hubungan kekeluargaan. Sehingga pasar tersebut menjadi tempat bertemu dan bertukar budaya (SK).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....