Tantangan Terbesar Pelaku UMKM di Era Pemasaran Digital
- 03 Agt 2026 08:58 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Salah satu tantangan terbesar pelaku UMKM di era pemasaran digital adalah positioning dalam mengkomunikasikan produk kepada konsumen secara tepat. Hal ini disampaikan Yumince Solaiman Pinat, S.Th., CLC, Marketing Trainer UMKM dalam program Ekonomi Digital RRI Atambua, Jumat 31 Juli 2026.
Menurutnya, pelaku usaha sering kali hanya sekadar memposting produk tanpa membayangkan pemahaman apa yang ingin ditangkap konsumen terhadap merek tersebut. Padahal, cara membicarakan produk dan menyampaikan nilai yang dimiliki sangat menentukan persepsi awal audiens terhadap sebuah brand.
Ia menjelaskan bahwa positioning merupakan aktivitas memperkenalkan produk berdasarkan apa yang ingin didengar dan dipahami oleh konsumen secara jelas dan sederhana. “Yang paling susah di era digital orang itu sekadar posting tapi dia tidak membayangkan dia mau orang itu punya pemahaman apa tentang produknya,” ujarnya.

Yumince juga menyoroti fenomena viral di media digital, di mana sebagian konten viral terjadi tanpa perencanaan, namun sebagian lainnya disusun melalui skenario matang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari proses berpikir dari hulu ke hilir yang sering dihindari pelaku UMKM.
Ia mengakui bahwa banyak pelaku usaha, termasuk dirinya, cenderung ingin hasil cepat tanpa melalui proses perencanaan branding yang mendalam dan berkelanjutan. “Kita tuh malas berpikir dari hulu ke hilir, kita maunya cepat, tapi sebenarnya kita harus mulai berproses,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membayangkan apa yang ada di benak konsumen ketika menyebut sebuah merek, terutama bagi produk yang belum dikenal luas. Edukasi dasar kepada konsumen menjadi penting, bahkan untuk hal sederhana yang sering dianggap sudah diketahui oleh banyak orang.
Yumince mengingatkan agar pelaku UMKM tidak mudah jengkel terhadap pertanyaan konsumen yang terlihat sederhana, karena hal tersebut menunjukkan adanya kebutuhan informasi yang belum terpenuhi. “Banyak orang itu gagal karena dia berpikir orang lain sudah tahu, padahal kita malas untuk menjelaskan,” tuturnya.
Dalam konteks digital, ia menilai indikator awal keberhasilan brand bukan hanya penjualan, tetapi juga respon audiens seperti komentar dan interaksi yang perlu dibaca serta dibalas secara manual. Analisis terhadap respon tersebut membantu pelaku usaha memahami persepsi konsumen sebelum akhirnya mengambil keputusan pembelian.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun teknologi seperti kecerdasan buatan atau AI dapat membantu analisis, peran manusia tetap penting dalam membangun hubungan dengan konsumen. “Kalau tidak pakai manusia, analisa terbaik tetap manusia karena lebih detail dan memahami rasa,” katanya.
Menurutnya, kemampuan menyelesaikan masalah konsumen menjadi kunci dalam membangun loyalitas dan kedekatan emosional terhadap produk yang ditawarkan secara konsisten. Semakin banyak masalah yang berhasil diselesaikan, maka semakin besar peluang konsumen mengingat dan mencintai brand tersebut.
Yumince menambahkan bahwa penggunaan AI sebaiknya hanya sebagai pendukung dalam mendeteksi pertanyaan umum, sementara penanganan kasus spesifik tetap membutuhkan interaksi manusia. Hal ini penting agar konsumen merasakan kehadiran nyata dan kepedulian dari pemilik usaha terhadap kebutuhan mereka.
Ia juga mengingatkan bahwa masuk ke platform digital membutuhkan kesiapan sumber daya manusia agar pelayanan tetap optimal dan tidak mengecewakan konsumen. Keterlambatan respon atau stok kosong dapat merusak citra brand dan menimbulkan persepsi negatif di mata calon pembeli.
Sebagai penutup, Yumince menekankan bahwa pelaku UMKM harus siap bekerja ekstra dalam mengelola pemasaran digital agar mampu bersaing secara berkelanjutan. “Kalau kita belum siap sumber daya manusia, lebih baik ditahan dulu karena bisa jadi brand kita jatuh,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....