Harga Sayur di Pasar Baru Atambua Stabil, Kenaikan Bergantung pada Pasokan Petani
- 29 Jul 2026 14:03 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Baru Atambua, Kabupaten Belu, masih terpantau stabil meski harga beberapa kebutuhan pokok, termasuk beras, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Pedagang menyebut harga sayuran belum mengalami penyesuaian karena pasokan dari petani lokal masih mencukupi kebutuhan pasar.
Pedagang sayur di Pasar Baru Atambua, Yohana Seuk, mengatakan harga sayuran sangat dipengaruhi oleh jumlah pasokan dari petani. Ketika produksi melimpah, harga jual tetap terjangkau. Sebaliknya, jika pasokan berkurang akibat musim tanam atau habis masa panen, harga akan mengalami kenaikan.
"Harga sayur tergantung pasokan. Kalau hasil panen petani banyak, harga tetap murah. Kangkung dan sawi misalnya bisa dijual 10 ikat seharga Rp.5 ribu. Tetapi kalau pasokan sedikit, harganya menjadi tiga ikat Rp.5 ribu," ujar Yohana saat ditemui di Pasar Baru Atambua, Rabu, 28 Juli 2026.
Menurutnya, kangkung dan sawi merupakan dua jenis sayuran yang paling banyak dibudidayakan petani di Kabupaten Belu sehingga ketersediaannya di pasar relatif stabil sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat harga kedua komoditas tersebut tetap terjangkau bagi masyarakat.
Sementara itu, beberapa jenis sayuran lain seperti selada air, buncis, bayam, kol, dan paria memiliki harga yang lebih tinggi karena dipengaruhi musim panen serta keterbatasan produksi.
"Selada air, buncis, dan bayam mengikuti musim sehingga kadang harganya lebih mahal. Kol juga tidak tersedia setiap waktu. Untuk paria saat ini dijual Rp.20 ribu untuk empat buah karena pasokannya terbatas," jelasnya.
Yohana mengungkapkan, saat ini sebagian petani telah menyelesaikan masa panen sehingga beberapa komoditas mulai berkurang di pasaran. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga apabila pasokan ke Pasar Baru Atambua terus menurun.
Ia mencontohkan harga wortel yang dalam kondisi normal dijual sekitar Rp.20 ribu per kilogram dapat meningkat menjadi Rp.25 ribu hingga Rp.30 ribu per kilogram ketika pasokan berkurang. Sementara harga kentang saat langka dapat mencapai Rp.35 ribu per kilogram.
"Wortel sebagian besar dipasok dari Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara. Biasanya mulai bulan Mei ada petani yang panen sehingga pasokan ke Atambua kembali banyak dan harga menjadi lebih stabil," katanya.
Menurut Yohana, kenaikan harga sayuran hampir selalu terjadi pada akhir tahun, terutama memasuki bulan Desember. Pada periode tersebut sebagian besar petani baru memulai musim tanam sehingga hasil panen belum tersedia dan pasokan ke pasar menjadi terbatas.
"Kalau musim hujan mulai dan petani baru tanam, pasokan pasti berkurang. Saat itulah harga sayuran biasanya naik. Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun dan sudah menjadi pola yang dipahami para pedagang," ujarnya.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Atambua, harga sejumlah komoditas sayuran hingga akhir Juli 2026 masih berada pada kisaran normal. Wortel dijual Rp20 ribu per kilogram, kentang Rp25 ribu per kilogram, sedangkan kangkung, sawi, dan selada dipasarkan dengan harga tiga ikat Rp.5 ribu.
Sementara itu, paria menjadi salah satu komoditas dengan harga relatif tinggi, yakni Rp.20 ribu untuk empat buah. Harga tersebut dipengaruhi minimnya jumlah petani yang membudidayakan paria sehingga ketersediaannya di pasar hanya pada waktu-waktu tertentu.
Meski harga beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan, pedagang berharap pasokan sayuran dari petani lokal tetap terjaga agar harga di tingkat pasar tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak terganggu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....