Petani Sayur di Belu Keluhkan Harga Tidak Stabil
- 07 Apr 2025 11:35 WIB
- Atambua
KBRN, Atambua: Silvester Nana (60), salah satu petani sayur di kelurahan Tulamalae, Belu mengeluhkan harga pasaran sayur yang tidak selalu stabil. Dia mengaku adakalanya, hasil penjualan tidak bisa memenuhi biaya produksi yang dikeluarkannya.
"Kami yang jadi petani sayur ini harus banyak sabar, karena kadang harga sayur bisa merosot sekali. Tapi lain waktu hasil dari jualan sayur itu, kita bisa dapat lebih dari kembalikan modal," ujar Vester karib disapa, kepada rri.co.id, Senin sore (7/4/2025).
Lanjutnya selain pengaruh kondisi cuaca dan musim, kualitas sayur juga sangat berpengaruh terhadap minat belanja. Kondisi lain yang ikut berperan dalam fluktuasi harga sayuran di pasar datang dari permainan harga oleh oknum papalele (tengkulak) yang ingin meraup keuntungan lebih dari petani.
"Saya usaha dari lahan terbatas modal juga kecil, tapi jadi petani sayuran itu positif sekali. Kalau kita tekun rawat tanaman, setiap hari itu selalu ada pemasukan biar sedikit, lebih bagus lagi kalau kita yang langsung jual ke pasar pasti lebih untung," katanya.
| Baca juga: Harga Bawang di Belu Melambung Tinggi |
Pekerjaan yang di tekuni sejak tahun 2003 itu, memberikan dampak positif bagi keluarganya dari hasil berkebun sayuran. Ia mampu menghidupi keluarga bahkan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi dari menanam bayam, sawi, kangkung, terong dan kacang panjang.
"Anak-anak saat ini ada yang sudah jadi guru, ada yang kerja swasta tapi mereka semua lulus kuliah dari hasil saya tanam sayur saja. Semua pekerjaan yang kita lakukan dengan hati itu hasilnya pasti ada, tidak ada yang mustahil kalau giat berusaha," tuturnya saat ditemui di lahan sayurnya.
Bagi Silvester persoalan harga sayur yang tidak stabil, menjadi bagian konsekuensi profesi sebagai petani. "Mau bagaimana lagi, kami harus hadapi tapi mohon pemerintah lihat juga permainan harga ini," ucapnya mengakhiri perbincangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....