Pengguna Diminta Tak Tergiur Janji Balik Modal
- 21 Sep 2026 10:17 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Calon pengguna PLTS diminta tidak tergiur jumlah panel maupun janji balik modal sebelum dilakukan perhitungan kebutuhan daya. Konsultan Energi Terbarukan Rejaton Indonesia, Mohammad Ghadafi, menyampaikan informasi kepada rri.co.id, Kamis 17 September 2026. Ia menyebut investasi PLTS tidak sedikit.
Ghadafi mengingatkan masyarakat menghindari FOMO atau ikut-ikutan memasang PLTS karena melihat rumah lain tampak mewah. Manfaat sistem harus dipahami sebelum membeli. “Jangan lihat dari jumlah panelnya yang akan dipasang banyak, atau langsung dijanjikan satu sampai dua tahun pasti balik modal."
Menurutnya, penyedia PLTS harus melakukan survei langsung sebelum merancang sistem. Survei mencakup luasan atap, kebutuhan kabel, kapasitas sistem, dan pemakaian listrik harian.
“Jangan hanya pelanggan diminta memotret luasan atap dan meteran listrik, tetapi semuanya perlu diukur serta dipastikan dalam proses desain,” tutur Ghadafi. Selain desain, calon pengguna perlu memastikan garansi perangkat karena investasi PLTS dapat bernilai setara pembelian sepeda motor bahkan mobil. Masa perlindungan harus jelas.
Ghadafi mengingatkan pelanggan memastikan garansi pabrik atau garansi lain. Vendor sulit dihubungi setelah pemasangan juga menjadi persoalan serius saat sistem mengalami gangguan. “Pastikan juga sisi vendornya, karena saya menemukan pelanggan baru pasang tiga bulan, tetapi vendornya tidak bisa dihubungi.”
Karena itu, masyarakat disarankan memanfaatkan Google, kecerdasan buatan, dan ChatGPT untuk menambah pengetahuan. Rejaton Indonesia terbuka menerima pertanyaan melalui komunikasi langsung maupun media sosial.
Ghadafi berharap ada agen Rejaton di Belu, Malaka, TTU, dan Alor, sementara teknisi disebut siap siaga 25 jam membantu pelanggan. “Tidak harus kantor, setidaknya ada titik perwakilan atau agen di wilayah NTT agar masyarakat memperoleh layanan dan pendampingan,” tutur Ghadafi.
Kebutuhan energi NTT besar, terutama wilayah terdampak bencana. Ia mencontohkan Malaka, pompa hidram dan PLTS membantu memompa air dan berproduksi saat daerah lain kekeringan. Ghadafi mengatakan dirinya dijadwalkan mengunjungi NTT bagian timur pada Agustus dan September, dengan pendaratan di Kupang. Kunjungan tersebut menjawab kebutuhan air dan listrik masyarakat.
“Kebutuhan air dan listrik harus terpenuhi, karena pemerataan pembangunan juga berarti memberikan fasilitas yang sama kepada saudara kita di daerah,” ujar Ghadafi. Menurutnya, masyarakat dengan fasilitas terganggu perlu didukung dan didampingi agar bangkit. Masyarakat perkotaan juga perlu mendorong akses serupa bagi saudara di daerah terpencil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....