Air Laut Surut, Tangkapan Nelayan Pesisir Belu Berkurang

  • 17 Sep 2026 18:16 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Fenomena pasang surut air laut merupakan gejala alam yang terjadi secara periodik di sepanjang wilayah pesisir. Perubahan muka air laut ini turut memengaruhi aktivitas dan kehidupan masyarakat pesisir, terutama nelayan yang menggantungkan penghasilan sehari-hari dari hasil tangkapan laut.

Kondisi tersebut turut dirasakan nelayan di wilayah perairan Timor, khususnya di sekitar Pantai Aufuik, Desa Dualaus, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Dalam beberapa pekan terakhir, air laut saat surut terlihat menjauh dari garis pantai. Kondisi ini berdampak pada aktivitas nelayan dan hasil tangkapan ikan yang diperoleh.

Warga nelayan Atapupu, Blasius Manek, mengatakan fenomena air laut surut biasanya terjadi secara periodik, terutama pada September hingga Oktober. Namun, pada periode tersebut, kondisi air laut yang surut hingga cukup jauh dari garis pantai membuat nelayan kesulitan mendapatkan ikan.

Menurut Blasius, kondisi air laut surut terjadi pada pagi dan sore hari sehingga waktu tersebut menjadi lebih sulit bagi nelayan untuk menangkap ikan. Meski demikian, karena melaut merupakan mata pencaharian utama, para nelayan tetap turun ke laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Ikan sekarang susah, tidak banyak untuk ditangkap dikarenakan surut air laut, kecuali menjaring lebih ke tengah. Musim begini September sampai Oktober air surut sampai kering jauh dan pagi dan sore susah menjala ikan,” katanya saat disambangi rri.co.id, Kamis, 17 September 2026.

Blasius yang sehari-hari hanya mengandalkan perahu dayung mengatakan aktivitas menangkap ikan dilakukannya sebatas di sekitar kawasan pelabuhan. Beberapa kali jala ditebar, namun hanya mendapatkan beberapa ekor ikan berukuran kecil.

Hasil tangkapan tersebut, katanya, tidak cukup untuk dijual ke pasar karena jumlahnya sangat sedikit. Ikan yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.

“Sudah menjadi mata pencaharian tiap hari masuk laut pakai perahu dayung. Saat begini hasil sedikit tetap cari untuk tambah-tambah untuk mencukupi makan keluarga,” ucapnya.

Ia menyebut kondisi air laut yang surut diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober. Para nelayan di pesisir pantai utara Belu pun tetap bertahan melaut meskipun harus menghadapi risiko hasil tangkapan yang minim.

Menurutnya, nelayan yang menggunakan perahu bermesin harus memperhitungkan biaya operasional, terutama pembelian bahan bakar minyak (BBM). Ketika hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya bahan bakar yang dikeluarkan, nelayan berpotensi mengalami kerugian.

“Ada yang menggunakan perahu mesin tidak dapat tangkapan di bulan begini atau pun sedikit, nanti rugi di bahan bakar minyak,” ujarnya.

Pantauan rri.co.id di sekitar Pantai Aufuik, Desa Dualaus, Kabupaten Belu, terlihat sejumlah nelayan menggunakan perahu untuk menuju ke bagian tengah perairan dan mencoba mendapatkan ikan.

Para nelayan beberapa kali menebarkan jala. Setelah beberapa waktu berada di laut, sebagian kembali ke pesisir tanpa membawa hasil tangkapan yang berarti.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat pesisir juga memanfaatkan waktu ketika air laut surut dengan mencari berbagai hasil laut lainnya. Sejumlah warga terlihat mencari kerang, kepiting, hingga rumput laut di sekitar kawasan pantai.

Hasil yang diperoleh kemudian dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Bagi masyarakat pesisir, aktivitas tersebut menjadi salah satu cara untuk tetap memperoleh penghasilan ketika hasil tangkapan ikan berkurang akibat kondisi pasang surut air laut.

Fenomena pasang surut menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Bagi nelayan di wilayah pantai utara Belu, perubahan kondisi laut tersebut membuat mereka harus menyesuaikan aktivitas melaut dengan kondisi perairan dan tetap bertahan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....