Kemarau, Debit Air Berkurang Perumda Air Minum Belu Kendala Pelayanan Air Bersih

  • 13 Agt 2026 15:04 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kabupaten Belu saat ini mengelola tujuh sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat pelanggan. Namun, ketersediaan air dari sumber-sumber tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, terutama saat memasuki musim kemarau.

Direktur Perumda Air Minum Kabupaten Belu, Antonius Jumadi Manek, mengatakan debit air pada sejumlah sumber mata air yang dikelola mengalami penurunan cukup drastis ketika musim kemarau tiba.

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama dalam menjaga kelancaran distribusi air bersih kepada masyarakat pelanggan.

“Sumber air yang ada saat musim kemarau debit air berkurang drastis. Bertambah pelanggan, air berkurang dari sumber. Ini kendala tahun ke tahun,” kata Antonius Jumadi.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa karena jumlah pelanggan Perumda Air Minum terus bertambah. Sementara itu, kapasitas sumber air yang tersedia cenderung menurun pada musim kemarau.

Akibatnya, pihaknya belum dapat memberikan pelayanan distribusi air bersih secara optimal untuk memenuhi seluruh tuntutan kebutuhan masyarakat pelanggan.

Jumadi menjelaskan, ketersediaan sumber air menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan Perumda Air Minum memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pada musim penghujan, ketersediaan air relatif lebih mendukung. Namun, memasuki musim kemarau, debit sejumlah mata air mulai menurun sehingga kapasitas produksi dan distribusi ikut terdampak.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah pelanggan dari tahun ke tahun juga meningkatkan kebutuhan air bersih. Kondisi tersebut membuat pengelola harus mencari langkah strategis agar pelayanan tetap berjalan sekaligus memastikan ketersediaan sumber air untuk jangka panjang.

“Bertambah pelanggan, air berkurang dari sumber. Ini kendala tahun ke tahun,” ujarnya.

Untuk menjaga kestabilan ketersediaan air bersih, Jumadi menilai diperlukan upaya jangka panjang melalui pelestarian lingkungan, terutama di sekitar kawasan sumber mata air.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah melakukan penghijauan dengan menanam sebanyak mungkin anakan pohon di sekitar sumber mata air dan kawasan yang mengalami kerusakan atau kekritisan lahan.

Menurutnya, keberadaan pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem dan membantu mempertahankan ketersediaan air di lingkungan.

Karena itu, upaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat tidak boleh hanya berorientasi pada solusi jangka pendek. Pemerintah dan masyarakat juga perlu memikirkan keberlanjutan sumber air untuk generasi mendatang.

“Yang dilakukan sekarang adalah stimulan, hanya menjawab tuntutan kebutuhan air bersih, tetapi harus juga memikirkan jangka panjang. Kegiatan penghijauan agar sumber air tidak mengering,” kata Jumadi.

Jumadi mengatakan, penghijauan di kawasan lahan kritis tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai sektor, baik pemerintah, lembaga terkait, dunia usaha, komunitas, maupun masyarakat.

Menurutnya, kegiatan penanaman pohon perlu terus digalakkan setiap tahun dan dilakukan secara berkelanjutan, khususnya di sekitar daerah tangkapan air dan sumber-sumber mata air.

Ia berharap masyarakat ikut menjaga pohon dan lingkungan yang telah ditanam sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Pepohonan yang tumbuh dan berkembang di kawasan sumber air diharapkan mampu membantu menjaga tata air serta mengurangi risiko semakin berkurangnya debit mata air saat musim kemarau.

“Penghijauan lahan kritis dengan menanam anakan pohon merupakan agenda lintas sektor. Perlu digalakkan setiap tahun,” ujarnya.

Jumadi menegaskan, persoalan ketersediaan air bersih tidak hanya berkaitan dengan kemampuan Perumda Air Minum dalam mengelola dan mendistribusikan air, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan keberlanjutan sumber mata air.

Karena itu, menjaga kawasan sumber air harus menjadi tanggung jawab bersama. Upaya konservasi lingkungan sejak sekarang dinilai penting untuk memastikan sumber air tetap tersedia di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan perubahan kondisi iklim.

Dengan pengelolaan sumber daya air yang disertai upaya penghijauan dan perlindungan lingkungan, ketersediaan air bersih di Kabupaten Belu diharapkan dapat lebih terjaga.

Langkah tersebut sekaligus menjadi investasi jangka panjang agar kebutuhan air bersih masyarakat saat ini maupun generasi mendatang dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....