Perumda Air Minum Belu Belum Mampu Atasi Kekeringan lantaran Debit air Berkurang
- 13 Agt 2026 15:06 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kabupaten Belu mengelola tujuh sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pelanggan. Namun, keberadaan tujuh sumber tersebut belum sepenuhnya mampu dioptimalkan untuk menjamin kelancaran pelayanan, terutama saat memasuki musim kemarau.
Akibatnya, pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat pelanggan masih kerap mengalami gangguan ketika debit sumber mata air menurun.
Direktur Perumda Air Minum Kabupaten Belu, Antonius Jumadi Manek, kepada rri.co.id di Atambua, Selasa (11/8/2026), mengatakan tujuh sumber mata air yang dikelola sebenarnya diharapkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat secara lebih baik.
Menurutnya, apabila seluruh sumber dapat berfungsi secara optimal dan memiliki debit yang stabil, kebutuhan air bersih masyarakat diharapkan dapat terpenuhi sehingga persoalan krisis air dapat diminimalkan.
Namun, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri. Saat musim kemarau, debit air pada sumber-sumber mata air mengalami penurunan cukup drastis. Bahkan, pada kondisi tertentu, sumber air dapat mengalami kekeringan.
“Sumber air yang ada saat musim kemarau debit air berkurang drastis. Bertambah pelanggan, air berkurang dari sumber. Ini kendala tahun ke tahun,” kata Antonius Jumadi.
Jumadi menjelaskan, persoalan ketersediaan air bersih tidak hanya disebabkan oleh menurunnya debit mata air saat musim kemarau. Bertambahnya jumlah pelanggan juga membuat kebutuhan air terus meningkat.
Kondisi tersebut menyebabkan Perumda Air Minum menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan distribusi air kepada seluruh pelanggan.
Di satu sisi, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih terus meningkat. Di sisi lain, kemampuan sumber mata air dalam menyediakan air mengalami penurunan ketika musim kemarau.
Situasi tersebut membuat pelayanan air bersih kepada masyarakat belum dapat dilakukan secara maksimal dan menjadi persoalan yang perlu dicarikan solusi secara berkelanjutan.
Jumadi menilai, persoalan air bersih tidak dapat hanya diselesaikan dengan mengandalkan sumber air yang ada. Diperlukan langkah jangka panjang untuk menjaga agar sumber mata air tetap memiliki debit yang cukup dan tidak semakin terancam kekeringan.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kawasan sumber mata air.
Jumadi mendorong penanaman sebanyak mungkin anakan pohon, terutama di sekitar sumber mata air dan kawasan lahan kritis. Menurutnya, keberadaan pepohonan memiliki peranan penting dalam menjaga daya dukung lingkungan dan ketersediaan air.
Ia menegaskan, upaya memenuhi kebutuhan air bersih saat ini harus diikuti dengan langkah konservasi untuk menjamin ketersediaan air bagi masyarakat pada masa mendatang.
“Yang dilakukan sekarang adalah stimulan, hanya menjawab tuntutan kebutuhan air bersih, tetapi harus juga memikirkan jangka panjang. Kegiatan penghijauan agar sumber air tidak mengering,” ujarnya.
Menurut Jumadi, penghijauan tidak bisa hanya dilakukan sesekali. Kegiatan tersebut perlu menjadi agenda yang dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan setiap tahun.
Jumadi mengatakan, penghijauan kawasan lahan kritis merupakan agenda lintas sektor. Pemerintah, masyarakat, lembaga terkait, dan berbagai pihak lainnya perlu bersama-sama menjaga lingkungan, khususnya kawasan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air.
Penanaman pohon di sekitar sumber mata air diharapkan dapat membantu menjaga keberadaan sumber air dalam jangka panjang. Pepohonan yang tumbuh juga memiliki fungsi ekologis dalam membantu menyimpan dan mempertahankan air di dalam tanah.
Karena itu, masyarakat tidak hanya diharapkan menanam pohon, tetapi juga ikut merawat dan menjaga tanaman yang telah ditanam agar dapat tumbuh hingga memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Penghijauan lahan kritis dengan menanam anakan pohon merupakan agenda lintas sektor. Perlu digalakkan setiap tahun. Dari pepohonan yang ada, air bisa ditampung untuk menjawab krisis air bersih yang terjadi saat ini,” kata Jumadi.
Persoalan krisis air bersih di Kabupaten Belu menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Kebutuhan air masyarakat terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pelanggan, sementara ketersediaan air dari sumber mata air menghadapi tekanan terutama pada musim kemarau.
Karena itu, pengelolaan air bersih perlu dilakukan bersamaan dengan konservasi sumber daya alam. Langkah jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pelanggan harus berjalan seiring dengan program jangka panjang untuk menjaga sumber mata air.
Perumda Air Minum Kabupaten Belu berharap dukungan berbagai pihak dalam menjaga lingkungan dapat membantu mempertahankan sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pelayanan masyarakat.
Dengan menjaga kawasan mata air dan memperluas gerakan penghijauan, ketersediaan air diharapkan dapat lebih terjamin sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
Upaya tersebut sekaligus menjadi investasi lingkungan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Belu saat ini dan generasi mendatang tetap dapat terpenuhi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....