Bapanas: Potensi Pangan Alor Besar, Kemiskinan Didorong Diatasi lewat Pertanian
- 09 Agt 2026 15:47 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor — Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, menyebut Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, memiliki sumber daya pangan lokal yang besar untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mengatasi kemiskinan.
Andriko mengatakan, melalui kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia, pemerintah ingin memastikan kondisi pangan di seluruh daerah berada dalam keadaan baik. Menurutnya, tidak boleh ada masyarakat yang mengalami kelaparan maupun kemiskinan.
“Melalui Pak Menteri Pertanian itu pengen situasi pangan di semua daerah di Indonesia itu dalam kondisi yang baik. Tidak boleh ada yang lapar, tidak boleh ada yang miskin. Dan itu menjadi cita-cita bukan hanya Indonesia, tapi itu cita-cita semua pemimpin dunia, yaitu menghilangkan kemiskinan dan kelaparan,” ujar Andriko kepada RRI.co.id. Sabtu, 08 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, setiap informasi mengenai persoalan kelaparan akan mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Presiden, kata dia, akan memerintahkan jajaran kementerian terkait untuk turun dan melihat kondisi sebenarnya di lapangan agar persoalan tersebut dapat segera ditangani.
Menurut Andriko, Alor sebenarnya tidak memiliki alasan untuk mengalami persoalan pangan karena daerah tersebut mempunyai berbagai sumber daya lokal. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal sehingga masyarakat masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap beras sebagai bahan pangan pokok.
“Kalau soal pangan, itu harusnya tidak ada persoalan. Karena sumber daya lokal yang dimiliki itu banyak banget, cuma belum terkelola dengan baik. Jadi hari ini kita masih sangat tergantung kepada beras,” katanya.
Untuk memastikan ketersediaan pangan pokok, pemerintah memastikan stok beras di Kabupaten Alor tetap aman. Andriko menyebut, berdasarkan peninjauan, gudang Bulog di Alor memiliki sekitar 1.200 ton beras yang dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat Kabupaten Alor. Jika stok berkurang, pasokan akan kembali didatangkan dari wilayah lain di NTT.
Selain ketersediaan beras, pemerintah juga memberikan bantuan pangan kepada masyarakat miskin dan miskin ekstrem. Bantuan tahap ketiga untuk periode Juli, Agustus dan September diberikan dalam bentuk beras sebanyak 10 kilogram per bulan, atau 30 kilogram sekaligus, dengan sasaran penerima di seluruh Indonesia mencapai sekitar 33,4 juta masyarakat miskin dan miskin ekstrem.
Andriko menambahkan, masyarakat di luar penerima bantuan pangan juga mendapat akses beras dengan harga lebih murah melalui program SPHP. Di sisi lain, pemerintah mendorong pengembangan sektor pertanian Alor melalui bantuan bibit jambu mete, kakao, kelapa, padi, padi gogo dan jagung dengan cakupan sekitar 10 ribu hektare.
Menurutnya, strategi tersebut dirancang dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Tanaman pangan seperti padi dan jagung diharapkan memberikan hasil lebih cepat, sementara kakao, kelapa dan jambu mete menjadi investasi pertanian jangka panjang. Dengan mayoritas masyarakat Alor bekerja sebagai petani, Andriko menilai penguatan sektor pertanian menjadi langkah tepat untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi kemiskinan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....