Tenun Ikat Belu Jadi Sumber Penghasilan Menjanjikan, Penenun Raup Jutaan Rupiah

  • 28 Jul 2026 16:47 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kerajinan tenun ikat masih menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan bagi masyarakat di Desa Duarato, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Berbekal keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, para penenun mampu memperoleh pendapatan jutaan rupiah setiap bulan dari hasil penjualan kain tenun khas Belu.

Kepada rri.co.id Selasa 28 Juli 2026, Salah seorang penenun, Maria Konsila Talika, mengatakan dalam satu bulan dirinya mampu menyelesaikan sekitar tiga lembar kain tenun. Setiap lembar kain dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp.1 juta hingga Rp.1,5 juta, bergantung pada motif, ukuran, tingkat kesulitan, serta kualitas tenunan.

"Harga kain berbeda-beda sesuai motif dan tingkat kesulitannya. Dalam sebulan saya bisa menyelesaikan sekitar tiga lembar kain," ujarnya.

Ia mengatakan hasil penjualan kain tenun tersebut menjadi sumber utama penghasilan keluarga. Pendapatan yang diperoleh dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.

"Penghasilan dari menenun sangat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak," katanya.

Maria juga menilai pemasaran melalui media sosial memberikan dampak positif terhadap perkembangan usaha tenun ikat. Menurutnya, promosi secara digital mampu memperluas jangkauan pasar sehingga kain tenun khas Belu semakin dikenal masyarakat di berbagai daerah.

Sementara itu, penenun muda Maria Mengelinda Soenmau mengaku telah belajar menenun selama kurang lebih tiga tahun. Ia memilih mendalami keterampilan tersebut sebagai bentuk kecintaannya terhadap budaya sekaligus upaya melestarikan tradisi warisan leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

"Saya ingin menjaga budaya warisan leluhur sekaligus memperoleh penghasilan dari hasil menenun," ucapnya.

Menurutnya, menenun tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para pelakunya. Hasil penjualan kain tenun yang dipasarkan melalui media sosial maupun berbagai festival budaya menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus ditabung sebagai biaya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Menenun memberi manfaat ekonomi. Hasil penjualan kain bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan ditabung untuk melanjutkan pendidikan," katanya.

Para penenun di Desa Dua Rato berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan usaha tenun ikat. Mereka menginginkan dukungan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, bantuan peralatan dan bahan baku, kemudahan akses pemasaran, serta promosi yang lebih luas agar tenun khas Belu mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Harapan tersebut disampaikan karena para penenun meyakini dukungan pemerintah akan meningkatkan daya saing produk tenun ikat Belu sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kerajinan tradisional tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....