Kelangkaan BBM Picu Antrean Panjang di SPBU Malaka
- 14 Jun 2026 19:38 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Malaka - Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Pertalite yang mulai langkah di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan antrian panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Antrian puluhan kendaraan roda dua dan roda empat membeludak terlihat sejak pagi hari, bahkan sebagian pengendara sudah memarkirkan kendaraan mereka sejak malam sebelumnya untuk bisa mendapatkan giliran pengisian BBM.
Kondisi tersebut terjadi di hampir seluruh SPBU di wilayah Kabupaten Malaka dan mulai dirasakan masyarakat dalam dua pekan terakhir. Akibat terbatasnya pasokan BBM, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat terus meningkat dari hari ke hari.
Pantauan di depan SPBU Labarai, Kamanasa, Malaka Tengah pada Sabtu 13 Juni 2026, antrian kendaraan tampak memadati area SPBU Labarai, kota Betun. Pengendara menunggu berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite, Pertamax, maupun Solar. Panjang antrean diperkirakan mencapai belasan meter dan menyebabkan arus kendaraan di sekitar lokasi menjadi padat.
Salah seorang pengendara, Dominggus Bere Nahak, mengaku telah mengatur sejak jam 3 subuh hanya untuk bisa mendapat bahan bakar. Namun sampai siang hari, ia masih belum mendapatkan giliran untuk mengisi BBM.
"Ya bensin satu Minggu ini susah, pertalite dan Pertamax sekarang langka. Saya sudah antri sejak jam tiga subuh, tapi sampai siang belum dapat giliran karena antrian panjang. Semoga ke depan bisa lancar lagi. Kita masyarakat kecil ini hanya bisa menyesuaikan," ujar Dominggus Nahak, saat temui RRI di mobilnya saat menunggu antrian di SPBU Labarai.
Dominggus menambahkan, saat ini masyarakat sebagai masyarakat kecil ia hanya bisa pasrah dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada sambil berharap pasokan BBM bisa segera normal tanpa antrean seperti ini.
Data dari dinas Perindagkop Malaka menunjukkan tidak semua SPBU mendapat stok penyaluran BBM pada hari Sabtu 13 Juni. SPBU Labarai 5485705 mendapat stok Pertalite sebanyak 8.000 liter, Solar 1.778 liter, Pertamax 8.000 liter dan Dexlite 1.328 liter. Meski demikian pada hari yang sama sejumlah SPBU dari total 8 SPBU seluruh wilayah Malaka, stok BBM seperti Pertalite dan Solar tidak mendapat penyaluran. Seperti SPBU Motamasin 5685711, SPBU Welaus 5685713 dan SPBU As Manulea 5685715, stok Pertalite dan Solar kosong. Selain itu, Pertamax yang seharusnya disalurkan di SPBU Webriamata 5685701 juga tidak tersedia. Pertalite di SPBU Besikama 5685716 juga nihil.
Situasi ini berdampak pada terganggunya pelayanan BBM bagi masyarakat. Warga harus menunggu dalam waktu lama untuk mendapatkan bahan bakar, bahkan sebelumnya beberapa kendaraan terpaksa tidak beroperasi karena kehabisan dan sulitnya memperoleh BBM subsidi jenis Pertalite yang biasanya tersedia di sejumlah pengecer kota Betun hingga malam hari.
Selain kelangkaan BBM Pertalite, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga Pertamax di tingkat pengecer. Setelah penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026. Harga BBM eceran menjadi tidak stabil, hingga saat ini harga Pertamax terus melonjak naik sejak beberapa hari terakhir hingga menyentuh angka Rp20.000 per botolnya eceran.
"Sudah tiga hari ini Pertamax di eceran naik dari 15 ribu dua puluh ribu, sebelumnya dari 13 ribu rupiah ke lima belas ribu kalau pun ada jual dengan tiga belas saat itu ukuran takarannya dikurangi. kita hanya bisa isi di Pertamax paling gampang di eceran karena tersedia di banyak titik di area kota," ujar salah satu warga.
Kondisi kelangkaan pertalite dan kenaikan harga Pertamax, membuat pengguna kendaraan motor terpaksa beralih menggunakan Pertamax. Selain itu, jam operasional SPBU di Malaka yang tutup pada sore saja meski harga BBM eceran naik, pengendara saat ini hanya mampu membeli Pertamax per botol dengan jumlah terbatas.
Dugaan kuat kelangkaan BBM di Malaka ada praktik penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kesempatan kenaikan harga BBM untuk menaikkan harga BBM eceran. Meski hanya sebatas dugaan, masyarakat berharap Pemda melakukan pengawasan guna memastikan pasokan tersedia merata dan tepat sasaran. Masyarakat juga meminta agar dilakukan penertiban terhadap praktik penjualan BBM yang tidak sesuai ketentuan apabila ditemukan di lapangan.
Masyarakat juga berharap persoalan kelangkaan BBM ini segera mendapatkan perhatian serius dan penanganan yang efektif, sehingga aktivitas ekonomi, transportasi, dan mobilitas warg1a dapat kembali berjalan normal tanpa tergantung oleh keterbatasan pasokan bahan bakar. (AS)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....