Perempuan Alor Didorong Berani Ambil Ruang dalam Kepemimpinan
- 20 Mei 2026 00:37 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Kesetaraan gender di Kabupaten Alor dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait pandangan masyarakat yang menganggap laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin dibanding perempuan. Pola pikir tersebut dinilai masih kuat, khususnya di kalangan generasi terdahulu.
Aktivis perempuan Alor, Bunda Yusfira Abdurrahman, mengatakan diskriminasi terhadap perempuan hingga kini masih sulit dihilangkan. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang belum memberikan ruang setara bagi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin di tengah kehidupan sosial.
Ia mengaku pernah menyaksikan langsung penolakan terhadap seorang kepala desa perempuan di salah satu wilayah. Namun, perempuan tersebut tetap mampu bertahan dan menjalankan tugasnya meski menghadapi tekanan dari masyarakat sekitar.
“Tapi karena perempuan ini kuat dan dia bisa menghadapi segala bentuk ketidaksepakatan masyarakat, sehingga mungkin saat ini dia masih berada pada posisi sebagai pemimpin di desa itu. Kejadian itu sangat saya sayangkan, karena diskriminasi itu masih tetap ada dan sulit sekali dihilangkan, terutama bagi orang tua-orang tua terdahulu yang masih memegang prinsip bahwa hanya laki-laki saja yang bisa menjadi pemimpin,” ujar Bunda Yusfira Abdurrahman. Selasa 19 Mei 2026.
Menurutnya, kemampuan memimpin tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam menjalankan tanggung jawab dan merangkul masyarakat. Ia menilai perempuan juga memiliki kemampuan yang sama untuk menjadi pemimpin apabila diberi kesempatan.
“Perempuan juga bisa memimpin atas dasar dia memang mampu memimpin dan punya skill dalam memimpin. Kadang ada anggapan perempuan terlalu emosional dan terlalu membawa perasaan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dengan kepekaan terhadap perbedaan-perbedaan, perempuan bisa merangkul banyak orang,” katanya.
Selain itu, ia menilai edukasi mengenai kesetaraan gender perlu dilakukan sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dukungan tokoh adat dan tokoh agama juga dinilai penting agar perempuan mendapat ruang dalam berbagai forum diskusi maupun pengambilan keputusan.
Bunda Yusfira Abdurrahman juga mengajak perempuan muda di Kabupaten Alor untuk tidak merasa gengsi terhadap jenis pekerjaan tertentu. Menurutnya, semua pekerjaan memiliki nilai yang baik selama dilakukan dengan penuh tanggung jawab, termasuk pekerjaan yang selama ini lebih banyak dikerjakan laki-laki seperti satpam ataupun tukang parkir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....