Belasan Rumah dan akses jalan Terancam Ambruk Pasca Longsor di Kereana, Malaka

  • 30 Apr 2026 21:13 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Malaka - Pasca bencana longsor yang merusak pemukiman dan jalan raya di Desa Kereana, Kecamatan Botin Leobele, Kabupaten Malaka, kini belasan rumah dan akses utama warga berada dalam kondisi rawan ambruk total bila tidak segera segera ditangani segera secara serius.

Sebelas rumah terdampak sudah dikosongkan pemiliknya karena nyaris roboh akses jalan juga ditutup sementara menggunakan akses darurat. Joni Suri menyebut kondisi tanah di dua dusun yakni Anametan dan Mesbaun sangat rawan terjadi longsor dan bangunan di titik longsor sewaktu waktu bisa berpotensi terjadi longsor susulan.

Warga khawatir dengan adanya longsor susulan dampaknya dapat merusak bagunan dan jalan secara total jika tidak segera ditangani secara serius. Tokoh masyarakat mulai menyoroti faktor penyebab terjadinya bencana tersebut. Salah satu sorotan utama adalah terkait ketiadaan saluran drainase yang memadai di sepanjang pinggir jalan pada lokasi longsor.

Tokoh masyarakat Desa Kereana, Agustinus Manek, yang juga merupakan mantan anggota DPRD Belu serta mantan Kepala Desa Kereana dua periode itu, menilai longsor yang terjadi bukan semata-mata disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga karena sistem drainase di lokasi sudah tidak berfungsi sejak lama.

Agustinus menjelaskan bahwa saluran air di ruas jalan tersebut telah tertutup material tanah sehingga air hujan tidak lagi mengalir sebagaimana mestinya.

“Terkait longsor di Desa Kereana ini terjadi karena memang saluran drainase di jalan raya ini juga tertutup. Terus longsor ini dia tertarik karena longsor di depan jalan itu dan sekitar lokasi longsor ini, itu karena saluran air sudah tidak berfungsi lagi karena sudah tertimbun material tanah sehingga air setiap kali hujan ini tergenang di bahu jalan,” ujarnya.

Menurut dia, genangan air yang terus terjadi saat hujan menyebabkan badan jalan melemah, retak, lalu air meresap ke dalam tanah hingga memicu longsor.

“Sehingga jalan ini ketika hujan terus juga dia retak, sehingga air terus meresap ke dalam sehingga terjadi longsor ini,” jelas Agustinus.

Ia menyebutkan, dampak longsor tidak hanya merusak akses jalan, tetapi juga langsung menghantam rumah warga di sekitar lokasi.

Sedikitnya delapan rumah dilaporkan terdampak, sebagian mengalami retakan pada dinding dan lantai, bahkan ada yang harus dikosongkan karena rawan ambruk.

“Longsor ini juga ada beberapa rumah warga ini langsung kena dampaknya. Sekitar ada delapan rumah,” katanya.

Agustinus kembali menegaskan bahwa persoalan drainase menjadi salah satu penyebab utama bencana tersebut.

Menurutnya, air hujan yang seharusnya dialirkan melalui saluran justru meresap ke badan jalan dan lereng di sekitar permukiman warga.

“Jadi ini memang penyebab salah satunya adalah saluran air tidak ada ini. Jadi ketika hujan, air mengalir datang itu dia tidak mengalir terus, tapi air langsung meresap masuk ke jalan ini,” tegasnya.

Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten Malaka segera turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi warga dan melakukan penanganan darurat terhadap kerusakan jalan serta rumah-rumah yang terdampak.

“Sehingga untuk pemerintah daerah Kabupaten Malaka supaya segera datang melihat dan membantu masyarakat ini. Supaya longsor ini bisa diatasi seperti apa, terkait jalan yang rusak ini dan juga rumah warga yang terkena longsor,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, sebagian warga sudah memilih mengungsi ke rumah kerabat atau tetangga yang dinilai lebih aman karena khawatir terjadi longsor susulan.

“Karena masyarakat itu sekarang sudah mengungsi, ke tempat tinggal warga lain yang lebih aman,” ungkapnya.

Agustinus juga memperingatkan kondisi badan jalan yang kini retak dan menggantung sangat berbahaya. Jika terjadi longsor lanjutan, ruas jalan tersebut dikhawatirkan akan jatuh seluruhnya.

“Jalan ini seperti yang kita lihat ini kalau ada longsor lanjutan, ini patahan jalan ini juga pasti jatuh semua. Jadi tadi dari patahan jalan itu, sehingga semua ini terbawa turun, ada aspal yang pecah dan retak,” katanya.

Ia berharap penanganan segera dilakukan agar masyarakat tetap bisa menggunakan jalur tersebut dengan aman.

“Jadi ya kalau bisa segera ditangani. Supaya warga lewat sini juga bisa aman,” tambahnya.

Sebagai solusi jangka pendek dan menengah, Agustinus mengusulkan pembangunan bronjong di titik longsor guna menahan pergerakan tanah dan mencegah kerusakan semakin parah.

“Kalau bisa pemerintah daerah terkait datang untuk lihat dulu. Karena ini bekas longsor, jadi kalau bisa dibuat bronjong. harus bronjong,” usulnya.

Menurut dia, jalan tersebut memiliki peran penting karena menjadi akses utama masyarakat menuju kecamatan di seberang Sungai Tualaran. Jika jalan itu putus, mobilitas warga akan semakin sulit, apalagi selama ini jalur tersebut juga kerap terganggu banjir saat musim hujan.

“Jalan ini kan merupakan akses bagi masyarakat untuk ke kecamatan di seberang Sungai Tualaran itu. Ini pas akan semakin sulit. Karena selain karena banjir, sekarang ditambah lagi kalau jalan ini putus. Ini akan semakin sulit karena bencana ini,” jelasnya.

Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata demi keselamatan warga dan kelancaran akses transportasi.

“Jadi yah kalau bisa, kita harapkan kepada pemerintah daerah untuk melihat bencana ini dan segera ada tindak lanjut,” pungkasnya.

Di lokasi bencana, memang sepanjang jalan yang terjadi longsor itu, tidak kelihatan adanya saluran drainase.

Oleh warga yang berada di sekitar lokasi tersebut menyebutkan bahwa sebelumnya pernah ada drainase, namun seiring berjalannya waktu, saluran drainase itu kini telah tertutup material tanah. (AS)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....