Kepemimpinan Inklusif IMM Alor Dorong Perempuan Tampil Pimpin Organisasi

  • 30 Apr 2026 19:36 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor – Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Alor periode 2026–2027, Bunda Y. Abdurrahman bersama Sekretaris Umum IMM Cabang Alor, Suhardi Padamang, menegaskan pentingnya kepemimpinan inklusif dalam organisasi kemahasiswaan. Hal tersebut disampaikan dalam wawancara langsung pada Kamis pagi.

Dalam kesempatan itu, Bunda Y. Abdurrahman mengungkapkan bahwa keterpilihannya sebagai ketua merupakan hasil dari proses musyawarah cabang yang berjalan demokratis. Ia juga menilai kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi momentum penting bagi perubahan dalam tubuh organisasi.

Ia menyebut, kehadirannya sebagai ketua perempuan pertama di IMM Cabang Alor menjadi sejarah baru sekaligus tantangan tersendiri. Menurutnya, hal ini membuka ruang bagi kader perempuan untuk lebih berani tampil dalam kepemimpinan.

“Alhamdulillah pada pemilihan kali ini saya lolos dan memang betul menjadi sejarah baru untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Alor, karena untuk pertama kalinya seorang perempuan memimpin cabang di Kabupaten Alor,” ujarnya. Selasa, 28 April 2026.

Bunda menambahkan, kepemimpinan yang ia jalankan diharapkan mampu mendorong lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan di masa depan. “Saya merasa hal ini menjadi sesuatu yang perlu tetap kita perjuangkan agar ke depannya banyak imawati yang akan memimpin IMM Cabang Alor,” lanjutnya.

Sementara itu, Suhardi Padamang menjelaskan bahwa dirinya telah aktif di IMM sejak tahun 2022. Ia memulai perjalanan organisasi dari tingkat komisariat selama beberapa tahun sebelum akhirnya dipercaya menjadi Sekretaris Umum di tingkat cabang.

Ia menilai pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam menjalankan tugas organisasi, sekaligus memahami dinamika kaderisasi di IMM Cabang Alor.

“Saya sedikit cerita, di IMM Alor ada budaya yang membuat perempuan selalu dibatasi untuk menjadi pemimpin, dengan dalil bahwa pemimpin harus laki-laki,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak seharusnya ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kapasitas dan kriteria yang dimiliki seseorang. “Seorang pemimpin dalam organisasi tidak dipandang mau dia perempuan atau laki-laki, tetapi kalau sudah punya kriteria yang sesuai maka dia layak dan pantas,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....