Media Sosial Disebut Picu Konflik Remaja, Pembatasan Dinilai Solusi Tepat
- 30 Apr 2026 17:46 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor – Sinergi lintas instansi dalam mendukung pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun terus diperkuat di Kabupaten Alor. Dunia pendidikan bersama aparat penegak hukum dan pemerintah daerah berkolaborasi memberikan edukasi kepada siswa terkait dampak penggunaan media sosial.
Pengawas Sekolah Dikmen Kabupaten Alor, Nikodemus I. Malua, menyampaikan bahwa program seperti “Jaksa Masuk Sekolah” dan “Polisi Masuk Sekolah” menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran siswa. Program tersebut tidak hanya memberikan pemahaman hukum, tetapi juga mengedukasi siswa tentang dampak negatif media sosial serta pentingnya menjaga ketertiban.
| Baca juga: Orang Tua Didorong Dampingi Anak Membaca |
Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan dengan berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta, sejauh ini berjalan dengan baik. Ia berharap sinergi tersebut terus dipertahankan untuk membentuk karakter siswa yang lebih baik dan memberikan motivasi dalam meraih cita-cita.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan infrastruktur pendidikan di wilayah terpencil, seperti Pulau Pura, yang masih menghadapi keterbatasan jaringan internet. Meski demikian, proses pembelajaran tetap berjalan dengan memanfaatkan sumber belajar konvensional seperti buku dan perpustakaan.
| Baca juga: Safari Literasi Klik Sambangi Sekolah |
“Memang pemerintah saat ini sedang membangun infrastruktur jaringan internet secara bertahap. Tetapi kita juga tidak bergantung 100 persen pada digital, karena sekolah masih memiliki perpustakaan dan berbagai sumber belajar lainnya,” ujarnya. Rabu, 29 April 2026.
Lebih lanjut, Nikodemus menilai bahwa pembatasan media sosial merupakan langkah strategis dalam mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan, termasuk potensi konflik di kalangan remaja akibat interaksi di ruang digital yang tidak terkontrol.
“Media sosial itu bisa menjadi akselerator konflik. Saling komentar, saling sindir bisa melahirkan bibit permusuhan. Sehingga kebijakan ini kita lihat sebagai bentuk kepedulian pemerintah yang perlu didukung bersama,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dampak dari kebijakan tersebut mungkin tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, namun dalam jangka panjang diyakini mampu mendorong anak-anak untuk lebih banyak berinteraksi secara langsung dan membangun karakter yang lebih positif di lingkungan sosial mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....