Longsor Ancam Lahan Kelompok Tani Sehati di Tublopo
- 27 Apr 2026 20:00 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Timor (TTU), dalam sepekan terakhir memicu bencana banjir dan longsor di sejumlah titik dan yang paling terdampak adalah lahan pertanian hortikultura milik Kelompok Tani Sehati. Salah satu lokasi terdampak cukup parah berada di Desa Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, tepatnya di wilayah Banopo pada Minggu 26 April 2026.
Ketua Kelompok Tani Sehati, Frater Herman Tugas Ginting OFM Conv, menyampaikan bahwa hujan melanda wilayah tersebut sejak Sabtu malam hingga Minggu tanpa jedah. Sehingga menyebabkan banjir dan sejumlah fasilitas pertanian rusak serta tanaman hortikultura hanyut terbawa banjir.
"Hujan dengan intensitas tinggi melanda wilayah kami sejak Sabtu malam hingga Minggu tanpa henti. Sehingga air dari Kali Banopo meluap dan menghantam lahan seluas lebih dari 1,5 hektare yang baru ditanami sayur Kol dan sayuran lainnya. Bahkan mulsa dan sebagian tanah yang dekat dengan bibir kali hanyut tergerus banjir", ujar Frater Herman.
Frater Herman melanjutkan bahwa, gudang tempat penyimpanan pakan ternak dan bibit sayuran juga hampir jatuh.
Selain itu, kondisi lahan pertanian terutama terasering dan mulsa juga mengalami kerusakan serius karena tergerus banjir. Bahkan, kandang ternak babi dan rumah penyimpanan pupuk kompos turut terdampak dan terancam roboh.
Setelah bencana banjir ini, kelompok tani Sehati Banopo berencana membuka lahan pertanian baru (hortikultura) di lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari risiko bencana banjir. Namun, kelompok Tani Sehati membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama dari pemerintah daerah maupun donatur karena petani sudah merugi", kata Frater Herman.
Sementara Plh BPBD TTU, Velismino Askeli, menyampaikan bahwa banjir yang melanda lahan hortikultura klompok Tani Sehati Banopo Desa Tublopo belum ada laporan. Karena seharusnya laporan dari desa setempat yang ditujukan kepada Bupati TTU. Selanjutnya, Bupati akan disposisi ke BPBD dan berkoordinasi dengan OPD teknis seperti Dinas Pertanian atau Tanaman Pangan. Kemudian dilakukan survei untuk menilai kerusakan dan kerugian para petani baru bisa ditangani", ujar Velismino(SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....