Tuntutan Hidup Warga Tani di Belu Berjualan Asam Peroleh Tambahan Pendapatan
- 26 Agt 2026 17:57 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Komoditas asam menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi warga tani di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Buah yang mudah ditemukan di sekitar kebun maupun kawasan hutan itu dikumpulkan warga untuk kemudian dijual kepada pengepul di Kota Atambua.
Buah asam yang dipetik terlebih dahulu dibersihkan dari kulit dan bijinya. Setelah siap, hasil tersebut dibawa ke toko pengepul untuk ditimbang dan dijual sesuai harga yang berlaku.
Warga tani Desa Kabuna, Alfonsius Moruk, saat ditemui RRI.co.id pada Senin, 24 Agustus 2026, mengatakan harga biji asam bersih saat ini berada di kisaran Rp5.000 per kilogram.
“Asam petik lalu bawa timbang ke toko di Atambua, per kilo Rp5.000,” kata Alfonsius Moruk saat ditemui Senin siang.
Menurut Alfonsius, hasil penjualan asam memang belum memberikan penghasilan besar. Namun, pendapatan tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, terutama untuk membeli bahan pangan.
Ia mengatakan, kegiatan mengumpulkan asam menjadi salah satu pilihan warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan ketika musim kemarau panjang membuat aktivitas pertanian menjadi sulit dilakukan.
Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan sejumlah sumber mata air mulai mengering. Kondisi tersebut membuat petani penggarap lahan mengalami kesulitan untuk bercocok tanam karena keterbatasan air.
“Musim kemarau begini kerja tambahan palingan pilih asam juga mente, jual bisa dapat uang, itu saja kerjaan. Mau bertani bagaimana, air susah,” ucapnya.
Selain mengumpulkan buah asam, sebagian warga juga memanfaatkan hasil kebun lainnya, seperti jambu mete, untuk dijual. Bagi warga yang memiliki ternak, beternak juga menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga selama musim kemarau.
Alfonsius menjelaskan, pendapatan dari penjualan asam sangat bergantung pada jumlah yang berhasil dikumpulkan. Di sisi lain, warga juga harus memperhitungkan biaya transportasi ketika membawa hasil kebun ke Kota Atambua.
“Misalnya timbang hasil asam dapat Rp100 ribu, biaya ojek motor pulang pergi Rp60 ribu, dapat sedikit saja. Beli beras satu dua kilo untuk makan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas mengumpulkan hasil alam seperti asam dan jambu mete menjadi salah satu strategi warga tani di wilayah tersebut untuk bertahan secara ekonomi di tengah keterbatasan aktivitas pertanian selama musim kemarau.
Meski hasilnya tidak besar, bagi warga Desa Kabuna, pendapatan dari penjualan asam tetap memiliki arti penting karena dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pokok keluarga.
Warga berharap kondisi musim kemarau dapat segera berakhir sehingga aktivitas pertanian kembali berjalan normal dan masyarakat dapat mengolah lahan secara lebih optimal untuk mendapatkan penghasilan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....