Perempuan Alor Didorong Hilangkan Gengsi Kerja dan Perkuat Perlindungan Anak
- 26 Apr 2026 20:29 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Aktivis perempuan Alor, Bunda Yusfira Abdurahman, menyoroti fenomena masih adanya perempuan yang merasa gengsi untuk bekerja di sektor tertentu yang selama ini identik dengan laki-laki, seperti satpam atau tukang parkir. Menurutnya, kondisi ini masih cukup terlihat di wilayah Alor dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Ia membandingkan dengan kondisi di luar daerah, seperti di Pulau Jawa, di mana perempuan sudah banyak terlibat dalam berbagai jenis pekerjaan tanpa memandang stereotip gender. Hal ini menunjukkan bahwa peluang kerja bagi perempuan sebenarnya terbuka luas jika tidak terhalang oleh pola pikir yang membatasi.
“Kalau soal gengsi, kita taruh di belakang dulu. Memangnya kita makan gengsi? Kita makan dari gaji. Jadi apapun pekerjaan kita, harus disyukuri dan dijalani dengan baik,” ujar Bunda Yusfira. Sabtu, 25 April 2026.
Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain dalam memilih pekerjaan. Menurutnya, fokus utama adalah bagaimana pekerjaan tersebut dapat menunjang kehidupan diri sendiri dan keluarga.
Selain isu pekerjaan, Bunda Yusfira juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam mendorong kesetaraan gender di Kabupaten Alor. Ia berharap pemerintah dapat memberikan ruang dan fasilitas yang lebih luas bagi perempuan, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan potensi dan keterampilan mereka.
“Pemerintah perlu fokus pada perlindungan perempuan dan anak, menghadirkan program berkelanjutan seperti pelatihan dan pendampingan, serta mengedukasi sejak usia dini tentang kesetaraan dan pencegahan kekerasan,” tegasnya.
Ia mengusulkan tiga langkah utama, yaitu peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari kekerasan, penyediaan program pemberdayaan ekonomi seperti UMKM yang disertai pendampingan berkelanjutan, serta edukasi kesetaraan gender sejak usia dini bagi anak laki-laki dan perempuan.
Lebih lanjut, Yusfira Abdurahman yang juga berprofesi sebagai seorang guru, juga mengungkapkan pengalaman menerima cerita dari seorang siswa perempuan yang merasa diikuti dan hampir menjadi korban pelecehan oleh seorang pria saat pulang sekolah. Ia menilai kejadian tersebut sebagai peringatan bahwa perlindungan terhadap anak, khususnya perempuan, masih perlu diperkuat di lingkungan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....