Edukasi Apoteker Penting di Daerah Rawan Bencana
- 27 Feb 2026 15:27 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Kesiapsiagaan usaha farmasi lokal menjadi bagian penting dalam mendukung mitigasi bencana di Kabupaten Alor. Apotek tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan obat, tetapi juga berperan dalam edukasi dan penguatan ketahanan masyarakat.
Owner Apotik Alor Gresia Farma, apt. Lusia Drikti N. Gorantokan, menegaskan bahwa masyarakat di daerah rawan bencana perlu diedukasi sejak dini. Edukasi tersebut mencakup cara penyimpanan obat yang benar, dosis aman, hingga pentingnya menyiapkan obat pribadi sebelum bencana terjadi.
“Jadi kalau kita hanya mengharapkan bantuan dari orang lain, sebenarnya tidak seharusnya begitu. Kita harus mempersiapkan kebutuhan kita sendiri, termasuk kotak P3K dan tas siaga bencana,” ujarnya. Jumat, 27 Februari 2026.
Ia menjelaskan, selain edukasi, strategi menjaga ketersediaan obat menjadi fokus utama apotek. Sebagai daerah kepulauan yang bergantung pada transportasi laut dan udara, distribusi obat ke Alor sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
Menurutnya, pemantauan informasi dari BMKG menjadi langkah awal untuk mengantisipasi gangguan distribusi. Namun, strategi tersebut diperkuat dengan membangun jaringan distributor di luar daerah seperti Kupang, Flores, hingga Jawa, agar pengiriman bisa dilakukan melalui pesawat saat kapal tidak beroperasi.
Pengawasan stok juga dilakukan secara ketat melalui sistem buffer stock. Meski demikian, ia mengakui tetap ada kemungkinan kekosongan akibat lonjakan permintaan, terutama saat musim liburan atau meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Kami tetap harus ketat menjaga buffer stok, tetapi kadang perhitungan bisa meleset. Misalnya stok diperkirakan cukup sampai Februari, ternyata Januari sudah habis karena kebutuhan meningkat,” katanya.
Dalam kondisi darurat, apotek juga berupaya meng-cover kebutuhan pasien penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Pasien diingatkan agar tidak menunda pembelian obat rutin seperti amlodipin, kandesartan, atau kaptopril agar tidak terjadi putus obat.
Ia mengakui bahwa secara internal apotek belum memiliki SOP tertulis khusus untuk kondisi bencana, meski hal tersebut dinilai penting. Sementara ini, kesiapan lebih mengandalkan koordinasi internal dan kewaspadaan terhadap peringatan dini dari BMKG.
Secara pribadi, ia juga pernah turun langsung ke lokasi bencana, termasuk saat pandemi COVID-19 dan bencana Seroja 2021. Bersama apoteker lain, ia membantu distribusi obat, membuka saluran donasi, serta memberikan pendampingan psikososial kepada masyarakat terdampak.
Ia berharap kolaborasi antara apotek swasta, organisasi profesi, dan pemerintah daerah semakin diperkuat. Dengan kesiapan yang matang, ketersediaan obat tetap terjaga dan masyarakat lebih mandiri menghadapi potensi bencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....