Renungan Islam: Menjaga Kemuliaan Ditengah Kesunyian Bulan Zulqadah

  • 30 Apr 2026 20:26 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua — Bulan Zulqadah sering kali terlewati tanpa kesan mendalam karena suasananya tidak semeriah Ramadan yang penuh perayaan. Padahal, Zulqadah merupakan satu dari empat bulan haram yang secara eksplisit dimuliakan Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran.

"Bulan Zulqadah bukan waktu biasa karena memiliki nilai lebih di sisi Allah," ujar Teddy Sofyan, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Belu. Ia menekankan bahwa status bulan ini setara dengan Zulhijjah, Muharram, dan Rajab dalam hal kesucian serta keutamaan ibadahnya.

Makna "haram" dalam konteks ini merujuk wilayah waktu yang dilindungi sehingga setiap perbuatan manusia akan mendapatkan balasan berlipat. Dosa yang dilakukan terasa lebih berat bobotnya, namun sebaliknya, amal kebaikan sekecil apa pun akan dibalas pahala besar.

Menurut Teddy, masyarakat sangat menjaga barang berharga namun justru lalai dalam menghargai waktu istimewa yang telah ditetapkan Tuhan. "Kita cenderung memperlakukan semua bulan dengan cara sama tanpa menyadari ada zona suci yang menuntut penghormatan khusus," ucapnya, Kamis, 30 April 2026.

Ibarat sebuah kawasan dilindungi di sebuah kota, Zulqadah adalah zona waktu suci yang tidak boleh dirusak dengan kemaksiatan. "Jika kita tetap lalai dan tidak melakukan perubahan sikap, itu pertanda kita tidak menghargai kesempatan emas tersebut," kata Teddy.

Teddy Sofyan, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Belu. (Foto: Dok. Kemenag Belu)

"Zulqadah adalah pintu gerbang menuju bulan Zulhijjah sehingga merupakan waktu terbaik mempersiapkan kualitas iman secara maksimal," ujarnya. Persiapan ini menurutnya penting agar kita tidak kaget saat memasuki puncak ibadah haji dan Hari Raya Kurban nanti.

Amalan yang disarankan tidak perlu langsung besar, melainkan cukup dimulai dari menjaga lisan serta memperbanyak istighfar penuh keikhlasan. "Allah SWT tidak hanya melihat kuantitas amal, tetapi lebih mengutamakan konsistensi serta ketulusan hati para hamba-Nya," ucap dia.

" Banyak rahmat Tuhan datang dengan sangat tenang tanpa kita sadari sehingga terlewatkan begitu saja tanpa membawa makna," katanya. "Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena melewatkan kesempatan emas untuk mendulang pahala di bulan sangat mulia."

Sebagai refleksi diri, lanjutnya, tanyakanlah apakah ibadah kita sudah mengalami peningkatan signifikan ataukah hidup masih stagnan seperti biasanya. Kesadaran akan waktu adalah kunci bagi setiap hamba mencapai derajat ketakwaan lebih tinggi di hadapan Sang Pencipta.

"Semoga Allah senantiasa memberikan kita kepekaan memuliakan apa yang Dia muliakan agar hidup menjadi lebih bermakna," ujarnya berharap. "Mari kita manfaatkan sisa waktu di bulan Zulqadah ini dengan meningkatkan kualitas spiritualitas demi menjemput keberkahan tiada tara."

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....